Abu Vulkanik Gunung Ibu dan Dukono Kepung Halmahera dan Morotai

Gunung Dukono lontarkan abu vulkanik. ANTARA/HO- PGA Dukono

Abu Vulkanik Gunung Ibu dan Dukono Kepung Halmahera dan Morotai

Lukman Diah Sari • 19 October 2026 09:59

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi pergerakan sebaran abu vulkanik imbas peningkatan aktivitas Gunung Ibu dan Gunung Dukono di Maluku Utara pada Senin pagi, 19 Oktober 2026.

Berdasarkan pantauan BMKG per pukul 07.00 WIB, sebaran abu vulkanik dari Gunung Ibu teramati bergerak ke arah timur laut.

"Mencakup sebagian Kabupaten Halmahera Barat dan Kabupaten Halmahera Utara," tulis BMKG dalam keterangan di laman resminya, Senin, 19 Oktober 2026.

Sementara itu, sebaran abu vulkanik dari Gunung Dukono juga meluas ke arah timur laut. Radius sebarannya mencakup sebagian wilayah Kabupaten Halmahera Utara hingga Perairan Barat Daya Morotai.

Terkait kondisi cuaca, BMKG menyebut prakiraan di sekitar Gunung Ibu bervariasi, mulai dari berawan, udara kabur, hingga tertutup kabut. Adapun cuaca di sekitar Gunung Dukono terpantau cerah berawan, berawan tebal, hingga berselimut udara kabur.


Gunung Dukono lontarkan abu vulkanik. ANTARA/HO- PGA Dukono

Dampak Abu Vulkanik

Menyikapi sebaran abu vulkanik tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dua dampak utama, yakni:
  • Dampak Kesehatan: Paparan debu dapat memicu iritasi pada mata dan kulit, menyebabkan batuk, serta menimbulkan gangguan pernapasan. Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat memperburuk keadaan masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan bawaan.

  • Dampak Transportasi: Tumpukan abu vulkanik berisiko mengurangi jarak pandang secara drastis dan membuat jalanan licin. Partikel abu juga dapat merusak fungsi mesin dan peralatan navigasi, yang berpotensi memicu penundaan, pengalihan rute, hingga penghentian sementara operasional transportasi darat, laut, maupun udara.
"Untuk mengantisipasi potensi risiko, masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG/Badan Geologi, serta pemerintah setempat," pesan BMKG.
 

(Lukman Diah Sari)