Gedung apartemen yang terbakar di Hong Kong menewasan 44 orang. Foto: CNN
Fajar Nugraha • 27 November 2025 09:37
Hong Kong: Warga menunggu dengan cemas kabar dari kerabat mereka di tempat penampungan sementara, setelah kebakaran hebat melanda kompleks bertingkat tinggi berkapasitas 2.000 unit di Hong Kong. Pihak berwenang melaporkan, sedikitnya 44 orang tewas dan ratusan orang lainnnya masih belum ditemukan.
Api mulai berkobar pada Rabu sore dan masih menyala hingga Kamis dini hari, mengguncang pusat keuangan yang memiliki blok apartemen terpadat dan tertinggi di dunia. Suara bambu perancah yang terbakar dan meledak terdengar di lokasi kejadian dan asap tebal mengepul ke atas dari gedung-gedung yang dilalap api.
"Saya benar-benar merasa ini sangat menakutkan. Saya menyaksikannya menyebar dari satu gedung menjadi tiga, lalu empat gedung, ini benar-benar menakutkan," ujar Veezy Chan, 25 tahun, seorang warga di daerah tersebut, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis, 27 November 2025.
Sejak tempat penampungan dibuka pada Rabu malam, warga terus berdatangan untuk melaporkan anggota keluarga yang hilang kontak dan beberapa orang duduk tertegun, menatap layar ponsel, dengan mata memerah, berharap mendapat kabar dari orang terkasih yang hilang. Sementara itu, pekerja sosial membagikan selimut dan bantal kepada para lansia untuk membantu mereka menghadapi malam yang dingin.
Seorang warga, Shirley Chan, menyebut tragedi itu sangat menyedihkan dan memilukan, sementara pria berusia 65 tahun bermarga Yuen mengatakan, lingkungannya adalah rumah bagi warga lansia (lanjut usia) yang menggunakan kursi roda dan alat bantu jalan. Kebakaran tersebut membuatnya dan istrinya kehilangan tempat tinggal.
Yuen mengatakan, kompleks apartemen sedang dalam perbaikan sehingga banyak penghuni menutup jendela mereka dan tidak mendengar alam kebakaran. Ia menambahkan, kerugian bukan hanya properti tapi juga hilangnya nyawa, seperti petugas pemadam kebakaran yang meninggal saat bertugas. Sementara itu, beberapa warga menyumbangkan dan mengirim pasokan ke tempat penampungan.
Seorang sukarelawan, Logan Yeung, 29, mengatakan hatinya berdebar-debar dan ia akan tetap berada di lokasi guna memberikan dukungan hingga operasi penyelamatan selesai seraya menduga masalah konstruksi menjadi penyebab insiden tersebut.
Kebakaran mematikan adalah momok yang biasa terjadi di Hongkong yang padat penduduk, terutama di lingkungan miskin, tetapi langkah-langkah keselamatan telah ditingkatkan dalam beberapa dekade terakhir, dan kebakaran sudah jarang terjadi.
Pernyataan warga sekitar yang terkejut karena api menyebar dan menyala sepanjang malam diperkuat oleh Chan yang merasa tidak berdaya. Sementara itu, Pemimpin Kota, John Lee, mengumumkan pada Kamis, akan membentuk satuan tugas untuk menyelediki kebakaran dan menyerahkan hasilnya kepada koroner, sejalan dengan tuntutan Chan agar pemerintah memberikan penjelasan kepada publik.
(Kelvin Yurcel)