Photobooth. Foto: Dok. Istimewa.
Peluang Bisnis Fotografi Lewat Tren Self-Photo Studio
Fachri Audhia Hafiez • 4 May 2026 15:04
Jakarta: Tren self-photo studio dan photobooth kini menjadi primadona baru di sektor ekonomi kreatif Indonesia. Hal ini seiring meningkatnya minat generasi muda terhadap hiburan personal.
Pertumbuhan industri ini tercatat sangat signifikan secara global, dengan proyeksi nilai pasar mencapai USD1,9 miliar pada 2034. Di Indonesia, pergeseran perilaku konsumen pascapandemi yang mencari micro-experiences membuat konsep foto mandiri tanpa fotografer semakin digemari karena memberikan ruang ekspresi yang lebih bebas.
Merespons pertumbuhan tersebut, Epson Indonesia bersama Master Plotter menggelar community gathering bertajuk “Cetak Peluang, Panen Cuan” di Jakarta. Kegiatan ini untuk membekali para calon pengusaha dengan ekosistem bisnis yang lebih terintegrasi.
“Melalui customer photo gathering ini, kami ingin menghadirkan ruang berbagi pengalaman sekaligus edukasi bagi para pelaku maupun calon entrepreneur di bidang fotografi. Harapannya, kegiatan ini bisa membantu mereka yang ingin terjun ke bisnis self photo studio yang saat ini sedang booming dan masih memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar,” ujar CEO Master Plotter, Djulwardi, dalam keterangannya, dikutip Senin, 4 Mei 2026.
Meski membutuhkan investasi awal berkisar Rp50 juta hingga Rp100 juta, bisnis ini dinilai memiliki periode balik modal yang cukup singkat, yakni sekitar tujuh bulan. Tantangan teknis seperti perangkat kamera, printer, hingga sistem pembayaran kini mulai teratasi dengan kehadiran teknologi yang lebih efisien dan berbasis AI.
Dalam kesempatan tersebut, Epson memperkenalkan printer seri D530 yang dirancang khusus untuk kebutuhan studio mandiri dengan keunggulan cetak bolak-balik. Sementara itu, Master Plotter menawarkan variasi media cetak mulai dari kertas glossy hingga material lenticular yang memberikan efek visual unik.
.jpeg)
Community gathering bertajuk “Cetak Peluang, Panen Cuan” di Jakarta. Foto: Dok. Istimewa.
Djulwardi menekankan bahwa kesuksesan bisnis ini sangat bergantung pada kenangan fisik yang dibawa pulang oleh konsumen. Kualitas hasil cetak menjadi faktor penentu agar pelanggan merasa puas dan tertarik untuk datang kembali.
“Dalam bisnis self photo studio, yang paling menentukan justru bukan hanya pengalaman saat berfoto, tetapi hasil cetaknya. Pengalaman bisa saja terlupakan, namun foto yang dibawa pulang akan terus dilihat dan menjadi kenangan. Karena itu, kualitas hasil print harus benar-benar dijaga agar memberikan kesan yang kuat dan mendorong pelanggan untuk kembali,” tambah Djulwardi.
Dukungan teknologi terkini diharapkan dapat memperluas ekspansi bisnis self-photo hingga ke kota-kota kecil dan kawasan komunitas. Sehingga, mampu terus menggerakkan roda ekonomi kreatif di seluruh wilayah Indonesia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com