UTB Jadi Lokasi Pelatihan 1.280 Calon Pekerja Migran Asal Jabar

Calon pekerja migran asal Jabar yang mengikuti pelatihan di UTB. Foto: Dok UTB

UTB Jadi Lokasi Pelatihan 1.280 Calon Pekerja Migran Asal Jabar

Arga Sumantri • 4 September 2026 18:14

Bandung: Universitas Teknologi Bandung (UTB) menjadi lokasi kick off program SMK Go Global Peningkatan Kapasitas Pekerja Migran Indonesia Terampil Mendunia tingkat Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) yang kompeten, profesional, dan berdaya saing untuk memasuki pasar kerja internasional.

Pelaksanaan kick off tingkat Jawa Barat ini merupakan bagian dari rangkaian Program SMK Go Global yang diluncurkan secara nasional di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta Timur. Di Jawa Barat, program tersebut melibatkan sejumlah lembaga pelatihan, termasuk Universitas Teknologi Bandung (UTB) sebagai salah satu lokasi pelatihan bagi calon pekerja migran Indonesia.

Sebelum pelaksanaan pelatihan, UTB melaksanakan tahapan seleksi administrasi dan tes wawancara bagi calon peserta. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan dan kesesuaian peserta dengan kebutuhan pelatihan, serta peluang kerja yang tersedia.

Setelah melalui proses seleksi, peserta mengikuti pelatihan sesuai bidang kompetensi yang tersedia di masing-masing lokasi pelatihan.

Membekali Keterampilan hingga Mental Calon Pekerja Migran

Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat KJombes Singgih Hermawan mengungkapkan 1.280 calon pekerja migran Indonesia di Jawa Barat akan mendapatkan pelatihan melalui Program SMK Go Global. Pelatihan berlangsung selama satu hingga tiga bulan sebagai bekal peserta sebelum memasuki dunia kerja di luar negeri.

Menurut Singgih, materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja dan mencakup sejumlah sektor, antara lain operasi produksi, manufaktur, bahasa Inggris, bahasa Jepang, hingga nursery. Program ini ditujukan bagi peserta yang ingin bekerja di luar negeri sekaligus membutuhkan peningkatan kapasitas dan kompetensi. 

"Pelatihan ada beberapa sektor di UTB, operasi produksi, manufaktur, dan bahasa Inggris. Ada bahasa Jepang dan juga nursery. SMK Go Global ini bisa semuanya, yang ingin ke luar negeri dan memerlukan peningkatan kapasitas," ujar Singgih dalam keterangan tertulis, Jumat, 4 September 2026.

Singgih menegaskan kesiapan calon pekerja migran tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga mental dan sikap. Peserta diharapkan mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, menjaga semangat, serta membangun kemampuan beradaptasi ketika nantinya bekerja jauh dari keluarga.

"Ini penting karena kita akan ke luar negeri, jauh dari keluarga, sehingga memang harus disiapkan mentalnya agar pada saat nanti bekerja di luar negeri tidak kalah saing," tegas dia.

Calon pekerja migran asal Jabar yang mengikuti pelatihan di UTB. Foto: Dok UTB

Melalui pelatihan tersebut, peserta dipersiapkan agar memiliki keterampilan kerja sekaligus kesiapan menghadapi lingkungan kerja internasional. Pemerintah juga telah menyiapkan negara tujuan bagi peserta yang memenuhi persyaratan dan siap untuk ditempatkan.

Rektor Universitas Teknologi Bandung Muchammad Naseer menegaskan kompetensi dan karakter merupakan dua aspek yang perlu berjalan beriringan. Keterampilan teknis perlu dibarengi dengan kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan sikap profesional agar peserta mampu bekerja dengan baik di negara tujuan.

"Skill itu penting, tetapi attitude juga menentukan bagaimana seseorang dapat diterima, dipercaya, dan berkembang di lingkungan kerja. Karena itu, kami berharap peserta tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan sikap profesional selama mengikuti program ini,” ujarnya.

Keterlibatan UTB dalam program tersebut juga menjadi bagian dari peran universitas dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan memperluas akses masyarakat terhadap peluang kerja internasional.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menilai SMK Go Global merupakan skema strategis karena mempertemukan pemerintah dan perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi muda Jawa Barat menghadapi bursa kerja global.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus memperluas akses program tersebut melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dengan sekitar 350 perguruan tinggi, 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, dan 5.957 kelurahan, Jawa Barat dinilai memiliki ekosistem yang kuat untuk memperluas akses peningkatan kapasitas dan kesempatan kerja bagi generasi muda. 

"Kita akan bahu membahu untuk memastikan Jawa Barat 2029 tidak ada anak muda yang nganggur," ujarnya.

Herman juga mendorong generasi muda untuk memiliki kemampuan critical thinking, tidak mudah menyerah, kreatif, serta menguasai kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, kemampuan tersebut penting agar generasi muda mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja. 

Siapkan Talenta Indonesia Berdaya Saing

Sebelumnya, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menyampaikan Program SMK Go Global merupakan program prioritas nasional dan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan talenta Indonesia yang kompeten, profesional, dan berdaya saing internasional.

Pemerintah menargetkan penyiapan 500 ribu tenaga kerja terampil untuk bekerja di luar negeri selama periode 2026–2029. Dari jumlah tersebut, 300 ribu ditargetkan berasal dari lulusan SMK dan 200 ribu lainnya berasal dari jenjang pendidikan umum, termasuk SMA sederajat, diploma, dan sarjana. 

Target tersebut dibagi secara bertahap, yaitu 40 ribu peserta pada 2026, 140 ribu pada 2027, 180 ribu pada 2028, dan 140 ribu pada 2029. 

Para peserta dipersiapkan melalui peningkatan keterampilan teknis, kemampuan bahasa, sertifikasi, serta kesiapan untuk bekerja di lingkungan internasional. 

(Arga Sumantri)