Kondisi debit aliran Sungai Jangkuk Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang mengalami peningkatan setelah Kota Mataram dan sekitarnya diguyur hujan dan angin kencang pada Selasa (20/1-2026) sekitar pukul 04.00 WITA. ANTARA/Nirkomala
Status Siaga, Debit Sungai Jangkuk Mataram Capai 140 Cm
Whisnu Mardiansyah • 20 January 2026 17:02
Mataram: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebut curah hujan tinggi dan merata berdampak pada peningkatan debit air sungai hingga mencapai level siaga. Ketinggian air pada tiga sungai yang melintasi Kota Mataram naik drastis sejak Selasa dini hari, 20 Januari 2026.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan kenaikan paling signifikan terjadi di Sungai Jangkuk.
"Kenaikan paling signifikan terjadi di Sungai Jangkuk sekitar pukul 08.00 Wita masih di angka 140 sentimeter. Padahal, rata-rata normalnya itu hanya 50 cm, sehingga berstatus siaga," kata Lale Widiahning di Mataram seperti dilansir Antara, Selasa, 20 Januari 2026.
Kenaikan itu terpantau bertahap seiring hujan angin yang melanda sejak pukul 02.30 Wita. Muka air naik dari setinggi 56 cm, menjadi 120 cm pada pukul 06.30 Wita, hingga memuncak di angka 140 cm. Sekitar pukul 09.30 Wita mulai terjadi penurunan sekitar 20 cm.
"Status 140 cm itu sudah masuk kategori siaga dan batas meluapnya jika menyentuh angka 200 cm atau 2 meter," katanya.
Sementara dua sungai lainnya, yakni Sungai Ancar dan Unus, masih di bawah debit Sungai Jangkuk. Hingga hujan reda, belum ada laporan air sungai meluap atau masuk ke pemukiman warga.
Kondisi itu kemungkinan terjadi karena aliran air sungai lancar hingga hilir sebagai hasil dari aktifnya tim Dinas PUPR melakukan langkah-langkah antisipasi dengan normalisasi sungai.
"Alhamdulillah, meskipun tadi malam hujan lebat dan merata serta terjadi peningkatan status debit air sungai, tidak ada yang meluap," katanya.
Guna mengantisipasi luapan air yang masuk ke pemukiman warga di bantaran sungai, Dinas PUPR Kota Mataram terus menjalin komunikasi intensif dengan Dinas PU Kabupaten Lombok Barat. Hal ini dilakukan untuk mengatur pembagian aliran air di pintu-pintu air agar tidak terkonsentrasi di satu aliran saja.

Air merendam pemukiman warga di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa, 13 Januari 2026. ANTARA/BPBD NTB.
"Kami telepon terus Kadis PU Lombok Barat untuk koordinasi hulu, dan minta pembagian aliran air diantisipasi bersama agar beban sungai di Mataram tidak berlebih," katanya.
Sejauh ini, aliran air di Sungai Jangkuk masih tergolong lancar tanpa hambatan berarti, seperti pohon tumbang atau sampah besar yang menyumbat jembatan. Selain debit sungai, tantangan lain adalah tumpukan sampah di saluran drainase pemukiman yang mencapai 2 hingga 3 ton per hari. Proses pengangkutan sampah saat ini sedikit tersendat akibat kendala teknis di Tempat Pembuangan Akhir Kebon Kongok, Lombok Barat.
"Karena itu, kami berharap masyarakat tidak membuang sampah di sungai dan saluran," katanya.