Kisruh Upaya Pencaplokan Greenland, PM Belgia: Eropa Bukan “Budak” AS

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever. Foto: Anadolu

Kisruh Upaya Pencaplokan Greenland, PM Belgia: Eropa Bukan “Budak” AS

Muhammad Reyhansyah • 23 January 2026 17:10

Brussels: Perdana Menteri Belgia Bart De Wever pada Kamis, 22 Januari 2026 menyerukan Eropa yang lebih kuat dan bersatu, menyusul ketegangan terbaru terkait Greenland dan sikap Amerika Serikat (AS) terhadap sekutu-sekutunya.

“Amerika Serikat adalah yang terkuat, tetapi martabat kami tidak untuk dijual. Kami bukan budak,” kata De Wever dalam pidatonya di parlemen, seperti dikutip Anadolu, Jumat, 23 Januari 2026.

Berbicara menjelang pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Brussel, De Wever mengatakan, perkembangan terbaru telah menyoroti kerentanan strategis Eropa serta mendesaknya penguatan otonomi kawasan tersebut, seperti dilaporkan penyiar publik RTBF.

Ia menyampaikan pernyataan itu setelah menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, tempat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa sebuah kerangka kerja untuk potensi kesepakatan yang melibatkan Greenland dan kawasan Arktika yang lebih luas telah tercapai.

De Wever menilai Eropa nyaris terhindar dari “sebuah bencana nyata” dan menyebut episode tersebut sebagai peringatan serius.

“Kita sebagai orang Eropa harus siap menghadapi badai dan berdiri sendiri,” ujar De Wever.

Ia mendesak percepatan kerja sama pertahanan, integrasi pasar modal, serta penguatan mekanisme kerja sama di dalam Uni Eropa. “Meskipun bukan untuk besok, kita harus mempercepatnya,” tambah De Wever.

Para pemimpin Uni Eropa kemudian berkumpul di Brussel untuk membahas perkembangan hubungan dengan Washington setelah munculnya ketegangan akibat ketertarikan Trump terhadap Greenland, yang memiliki posisi strategis di Arktik, sumber daya mineral melimpah, serta meningkatnya kekhawatiran atas pengaruh Rusia dan Tiongkok di kawasan tersebut.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot mengatakan dominasi global Amerika Serikat berbanding lurus dengan kelemahan strategis Eropa.

Berbicara kepada RTBF, Prevot menyatakan pengerahan pasukan Eropa ke Greenland telah disalahartikan oleh Washington sebagai langkah anti-Amerika. Ia menegaskan bahwa langkah itu justru dimaksudkan untuk meyakinkan Amerika Serikat sekaligus menjawab kekhawatiran keamanan Arktik yang berkaitan dengan Tiongkok dan Rusia.

Prevot juga menyambut keputusan Trump untuk membatalkan ancaman penerapan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai “tidak dapat diterima”, seraya memperingatkan bahwa penangguhan itu bisa bersifat sementara mengingat “ketidakpastian” sikap Trump.

Menurutnya, Uni Eropa harus menyiapkan rencana respons yang proporsional, termasuk kemungkinan langkah balasan di bidang ekonomi jika diperlukan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)