Petugas BPBD Probolinggo masih memantau adanya titik api di kawasan TNBTS pada Kamis (6/8/2026). ANTARA/HO-BPBD Probolinggo
Pemadaman Kebakaran Gunung Bromo Diperluas ke Dua Titik Baru
Silvana Febiari • 10 August 2026 17:29
Malang: Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih berlangsung. Area pemadaman diperluas ke dua titik baru.
"Jadi, sekarang kan masih dalam upaya pemadaman, kemarin 34 titik, sekarang ada dua titik di B30 perbatasan Probolinggo, Malang, ada lagi di lembah itu, mudah-mudahan hari ini bisa selesai," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto usai rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, dilansir dari Antara, Senin, 10 Agustus 2026.
Hingga saat ini, wilayah TNBTS memang masih ditutup untuk alasan keamanan. Sementara upaya pemadaman terus diperluas ke titik-titik api yang hingga kini masih menyebar.
"TNBTS masih ditutup karena kan sampai betul-betul yakin dan aman. Kita akan lihat terus kondisinya paling tidak seminggu begitu, nanti baru dievaluasi, kalau tidak ada kebakaran lagi, mungkin segera bisa dibuka kembali," ujar dia.
Fenomena panas akibat El Nino meningkatkan risiko karhutla. Utamanya di wilayah padang savana yang didominasi vegetasi ilalang, rumput, hingga semak-semak seperti di wilayah Gunung Bromo yang sangat kering.
"Ketika El Nino, panas, untung sekarang ini kan belum puncak, dulu waktu puncak di Jawa Timur itu tiga gunung yang kebakaran, yakni Bromo, Arjuno, Lawu, tahun 2023. Nah, kemudian sekarang tahun 2026 ini yang gunung-gunung (kebakaran) kan Pangrango, Rinjani, Bromo, mudah-mudahan lah tidak seperti tahun 2023," ucap Suharyanto.

Kepala BNPB Suharyanto. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.
Di sisi lain, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman karhutla di TNBTS hingga saat ini belum bisa dilakukan.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko mengatakan kendala terjadi karena awan konvektif yang menjadi syarat operasi modifikasi cuaca belum terbentuk di wilayah Bromo.
OMC merupakan upaya meningkatkan potensi hujan dengan menyemai garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke dalam gumpalan awan menggunakan pesawat khusus. Pelaksanaannya berbasis data ilmiah dan melibatkan tim ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara.
"Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC," jelas Satyawan.