Ilustrasi masker. Foto: Magnific
Masker Efektif Lindungi dari Asap Karhutla? Cek Penjelasannya!
Muhamad Marup • 28 August 2026 13:37
Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menimbulkan kabut asap yang memperburuk kualitas udara. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama penyakit ISPA, asma, hingga iritasi mata dan tenggorokan.
Di tengah kondisi tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang paling sering dianjurkan. Namun, apakah semua jenis masker efektif melindungi dari asap karhutla?
Dilansir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, masker memang dapat membantu mengurangi paparan partikel berbahaya dalam asap kebakaran hutan. Hanya saja, jenis masker dan cara penggunaan menentukan efektivitasnya.
Bahaya Asap Karhutla
Dilansir dari PMC (PubMed Central), asap kebakaran hutan mengandung berbagai polutan, termasuk partikel PM2.5. Partikel tersebut berdiameter kurang dari atau sama dengan 2.5 mikrometer.PM2.5 sangat mudah melewati saluran pernapasan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Ukurannya yang kecil dapat menembus jauh ke dalam saluran bronkial dan alveoli paru-paru bahkan ke aliran darah.
PM2.5 dapat menyebabkan risiko penyakit pernapasan seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kanker paru-paru, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular yang dapat menyebabkan gangguan fungsi endotel vaskular dan aritmia jantung.
Efektivitas dan Jenis Masker
Penggunaan masker saat karhutla sangat dianjurkan oleh Kemenkes. Saat kebakaran, kualitas udara akan memburuk.Masker penting untuk mencegah paparan partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dapat meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan riwayat asma dan penyakit paru.
Menurut Kemenkes, ada beberapa jenis masker atau respirator yang efektif digunakan di saat karhutla, seperti N100, N95, R100, dan P100. Masker N95 merupakan jenis masker yang direkomendasikan untuk melindungi diri dari paparan partikel asap kebakaran hutan.

Ilustrasi masker. Foto: Pexels
Jika digunakan dengan teknik dan cara yang benar, masker N95 dapat menyaring sekitar 95% partikel halus di udara. Kondisi tersebut mengurangi gejala gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla.
Selain itu, dilansir dari IQAir, respirator seperti N95, KN95, atau FFP2 menggunakan standar yang diakui secara internasional. Jenis tersebut memiliki kemampuan filtrasi yang setara dengan N95 untuk partikel halus di udara hingga 0,3 mikron.
Selain itu, dengan daya filtrasi tinggi sehingga dapat membantu mengurangi paparan partikel PM2.5 saat kualitas udara sangat buruk, asalkan masker menutup rapat area hidung dan mulut tanpa celah.
Meski demikian, masker N95 juga tidak disarankan digunakan terus-menerus selama berjam-jam tanpa jeda atau digunakan dalam ruangan. Sebagian orang dapat merasa lebih berat saat bernapas, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia atau penderita penyakit tertentu.
Apakah Masker Medis dan Masker Kain Efektif?
Dilansir dari laman ARMBRUST USA, masker medis standar dirancang untuk memberikan penghalang serta tingkat filtrasi tertentu terhadap droplet pernapasan dan partikel yang berukuran lebih besar. Namun, masker ini mungkin memiliki keterbatasan dalam menyaring partikel asap yang lebih halus.Masker medis memiliki banyak jenis, dan jenis yang efektif digunakan saat karhutla adalah N95. Masker medis jenis lainnya dan yang beredar luas di pasaran Indonesia umumnya memiliki daya filtrasi yang kurang efektif untuk menyaring partikel asap kebakaran hutan.
Efektivitas ini biasanya diukur berdasarkan kemampuan masker dalam menyaring materi partikulat, khususnya PM2.5, yang merupakan jenis partikel paling berbahaya.
Penting untuk diingat bahwa tidak ada masker yang dapat memberikan perlindungan 100% terhadap semua partikel yang terbawa udara. Efisiensi filtrasi masker bedah dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti desain, kualitas, dan kesesuaian masker saat dipakai.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa masker kain tidak efektif melindungi orang dari menghirup asap kebakaran hutan. Masker tersebut tidak mampu menyaring partikel PM2.5 secara efektif sehingga paparan asap tetap bisa masuk melalui celah kain.
Cara Menggunakan Masker agar Tetap Efektif
Dilansir dari ARMBRUST USA, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan masker ketika terjadi Karhutla:- Cuci tangan hingga bersih sebelum memegang masker
- Periksa masker untuk memastikan tidak ada kerusakan atau sobekan sebelum memakainya
- Pasang masker hingga menutupi hidung, mulut, dan dagu, serta pastikan masker terpasang rapat
- Sesuaikan strip di bagian atas masker agar mengikuti bentuk hidung
- Hindari menyentuh masker saat sedang memakainya, karena hal ini dapat mengurangi efektivitasnya
- Jika menggunakan masker sekali pakai, jangan gunakan kembali, buanglah masker dengan cara yang benar setelah digunakan
- Ganti masker jika telah lembab atau rusak selama pemakaian
- Selalu menjaga jarak sosial dan menerapkan langkah-langkah pencegahan lainnya meskipun sedang mengenakan masker
Masyarakat juga dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk, memperbanyak minum air putih, mengonsumsi buah dan makanan bergizi, serta segera mencari pertolongan medis jika muncul gejala gangguan pernapasan.
(Siti Nahdia Usman)