Polisi Inggris menangkap tujuh orang yang dituduh mendukung kelompok terlarang Palestine Action dalam aksi protes anti-perang Iran. (Press TV)
Polisi Inggris Tangkap Tujuh Demonstran Anti-Perang Iran di Pangkalan RAF
Muhammad Reyhansyah • 6 April 2026 18:06
Lakenheath: Polisi Inggris menangkap tujuh orang yang dituduh mendukung kelompok terlarang Palestine Action dalam aksi protes anti-perang di dekat pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) di wilayah timur Inggris yang digunakan oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk operasi terhadap Iran.
Lima pria dan dua wanita yang ditangkap di sebuah perkemahan damai di luar pangkalan Lakenheath berkumpul bersama aktivis lainnya pada Minggu untuk memprotes penggunaan pangkalan tersebut sebagai titik keberangkatan pesawat Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam perang AS-Israel terhadap Iran.
Kelompok Lakenheath Alliance for Peace yang mengorganisasi aksi tersebut mengatakan ketujuh orang itu ditangkap saat mengenakan pakaian dengan tulisan, “Kami menentang genosida, kami mendukung Palestine Action.”
Polisi mengatakan para demonstran ditangkap karena diduga mendukung organisasi yang telah dilarang.
Dilansir dari PressTV, Senin, 6 April 2026, pemerintah Partai Buruh yang dipimpin Perdana Menteri Keir Starmer melarang Palestine Action sebagai organisasi “teroris” tahun lalu, sehingga menjadi tindak pidana untuk menjadi anggota atau mendukung kelompok tersebut.
Pada Februari, sebuah pengadilan memutuskan bahwa pelarangan tersebut “tidak proporsional” dan mengganggu kebebasan berbicara. Namun, pemerintah mengajukan banding dan larangan tersebut masih tetap berlaku.
Menurut penyelenggara aksi Defend Our Juries, lebih dari 2.700 orang telah ditangkap dan ratusan lainnya didakwa dalam aksi dukungan terhadap kelompok tersebut.
Polisi juga mengatakan dua demonstran ditangkap pada Sabtu di Lakenheath dan didakwa karena menghalangi jalan umum.
Peran Inggris dalam Konflik Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengkritik Starmer karena dianggap tidak memberikan dukungan yang cukup dalam perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang menyebabkan ketegangan dalam aliansi lama kedua negara.Inggris sendiri telah mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya untuk melakukan operasi yang disebut sebagai operasi “defensif” terhadap Iran dan untuk melindungi Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia pada masa damai.
Dalam percakapan telepon pada 20 Maret dengan Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam Inggris karena mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya untuk operasi terhadap Iran.
“Tindakan ini tentu akan dianggap sebagai partisipasi dalam agresi dan akan tercatat dalam sejarah hubungan antara kedua negara kita,” kata Araghchi.
Ia juga meminta pejabat Inggris untuk tidak bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel, termasuk menyediakan platform bagi saluran televisi yang disebutnya mendukung tindakan permusuhan terhadap rakyat Iran.
Amerika Serikat dan Israel memulai gelombang baru serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari, delapan bulan setelah mereka melakukan serangan yang disebut tanpa provokasi terhadap negara tersebut.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone terhadap wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di negara-negara kawasan.
Baca juga: Politisi AS Kecam Ancaman Trump ke Iran, Soroti Stabilitas Mental