Politisi AS Kecam Ancaman Trump ke Iran, Soroti Stabilitas Mental

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Politisi AS Kecam Ancaman Trump ke Iran, Soroti Stabilitas Mental

Muhammad Reyhansyah • 6 April 2026 17:59

Washington: Sejumlah tokoh politik Amerika Serikat (AS) melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Donald Trump setelah ancamannya yang bernada kasar untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz. 

Beberapa di antaranya bahkan mempertanyakan stabilitas mental Trump dan menyoroti risiko yang dapat ditimbulkan terhadap pasukan AS.

Sebelumnya, Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Republik Islam itu tidak membuka Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan bahwa serangan tersebut akan menjadi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sejumlah pejabat di Washington memperingatkan bahwa retorika seperti itu menunjukkan eskalasi berbahaya dalam konflik.

Mantan anggota DPR AS Marjorie Taylor Greene, yang sebelumnya merupakan sekutu Trump, menjadi salah satu tokoh yang melontarkan kritik paling keras. 

"Saya kenal kalian semua dan dia, dan dia telah gila, dan kalian semua terlibat. Ini tidak membuat Amerika hebat lagi, ini adalah kejahatan," katanya dalam unggahan di platform X, seperti dikutip PressTV, Senin, 6 April 2026. 

Ia menekankan bahwa perang tersebut dimulai oleh AS dan Israel, serta berargumen bahwa Washington memaksa warga AS menanggung beban perang yang mengakibatkan korban sipil dan kehancuran.

“Semua orang di pemerintahannya yang mengaku Kristen harus berlutut dan memohon ampun kepada Tuhan, berhenti memuja Presiden, dan campur tangan dalam kegilaan Trump," lanjut Greene.

Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer juga mengecam pernyataan Trump dan menyebutnya sebagai pernyataan dari “orang gila yang tidak terkendali”, serta memperingatkan bahwa retorika tersebut dapat menjauhkan sekutu dan merusak kredibilitas AS.

Ia menulis di platform X, "Saat Anda merayakan bersama keluarga, Presiden Amerika Serikat sedang mengoceh seperti orang gila yang tidak stabil… mengancam kemungkinan kejahatan perang." 

Schumer menggambarkan racauan Trump sebagai hal yang "ngalor-ngidul, tidak teratur, dan menyedihkan," serta menyebutnya sebagai "salah satu kesalahan kebijakan terbesar dalam sejarah negara kita."

Kecaman Luas Anggota Parlemen AS

Senator Bernie Sanders juga mengkritik pernyataan tersebut dengan menyebutnya sebagai pernyataan yang “berbahaya dan tidak stabil secara mental” serta mendesak Kongres untuk bertindak dan mengakhiri perang.

"Satu bulan setelah memulai perang di Iran. Ini adalah racauan individu yang berbahaya dan tidak stabil secara mental. Kongres harus bertindak SEKARANG. Akhiri perang ini," ujar Sanders

Senator Chris Murphy mengatakan perilaku Trump menimbulkan kekhawatiran konstitusional serius, termasuk kemungkinan penerapan Amandemen ke-25, yang mengatur prosedur penggantian presiden jika dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya.

Anggota DPR Melanie Stansbury juga menyerukan penerapan Amandemen ke-25 dan mengatakan Kongres serta kabinet harus bertindak.

Sementara itu, sejumlah anggota parlemen juga memperingatkan risiko terhadap pasukan dan warga sipil. Anggota DPR Ro Khanna mengkritik Trump karena meningkatkan ancaman tanpa melindungi pasukan Amerika Serikat di Asia Barat.

Senator Tim Kaine meminta Trump menurunkan retorikanya karena dinilai memalukan dan kekanak-kanakan serta dapat meningkatkan risiko bagi pasukan Amerika Serikat.

Anggota DPR Jake Auchincloss menilai secara strategis perang tersebut merupakan kegagalan dan menyebut Iran masih memiliki keunggulan karena menguasai Selat Hormuz.

Senator Elissa Slotkin memperingatkan bahwa ancaman Trump dapat melanggar doktrin militer Amerika Serikat serta hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa mengenai aturan perang.

Ia menegaskan bahwa membunuh warga sipil secara sembarangan dan menghancurkan infrastruktur sipil adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan salah.

Baca juga:  Frustrasi Selat Hormuz Ditutup, Trump Hanya Bisa Mengancam Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)