Taksi Terbang eVTOL di Indonesia Bertambah 60 Armada dari Tiongkok

CEO Whitesky Grup, Denon Prawiraatmaja di Cengkareng Heliport Tangerang. (Metrotvnews.com/Hendrik S)

Taksi Terbang eVTOL di Indonesia Bertambah 60 Armada dari Tiongkok

Hendrik Simorangkir • 12 August 2026 22:26

Tangerang: Pengembangan operasi electrical vertical take-off and landing (eVTOL) atau taksi terbang di Indonesia tengah ditingkatkan. Salah satunya dengan penambahan sebanyak 60 armada dari Tiongkok.

"Berdasarkan Letter of Intent (LOI), kesepakatan itu mencakup 60 unit AutoFlight V2000EM Prosperity Aircraft. Kolaborasi dengan AutoFlight ini sekaligus memperbesar jajaran eVTOL Whitesky menjadi hingga 152 unit, yang terdiri atas 122 unit dari produsen Tiongkok dan 30 unit dari Jepang," ujar CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmaja, di Cengkareng Heliport, Tangerang, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurut Denon, pihaknya akan menggunakan pengalaman operasional penerbangannya sebagai titik awal untuk membangun jaringan vertiport, kemampuan maintenance, repair, and overhaul (MRO), pengembangan pilot dan teknisi, kesiapan regulasi, serta model komersial untuk eVTOL penumpang. Nantinya, Cengkareng Heliport menjadi bagian dari implementasi tersebut. Sementara itu, jaringan helipad yang direncanakan Whitesky di berbagai wilayah akan dikembangkan secara progresif untuk mendukung kebutuhan Advanced Air Mobility di masa depan.

"Kompleksitas geografis Indonesia justru memberikan kesempatan untuk mengembangkan model yang sulit direplikasi di pasar dengan karakter yang lebih sederhana. Kalau sebuah sistem bisa bekerja di Indonesia dengan jarak, kepulauan, kota besar, kawasan industri, dan kebutuhan mobilitas yang sangat beragam, maka knowledge yang kita bangun di sini memiliki nilai untuk banyak negara lain," jelas Denon.

Denon menjelaskan, nantinya pengalaman tersebut dapat menjadi basis untuk membangun kemitraan dan ekspansi di pasar Asia Pasifik yang menghadapi kebutuhan konektivitas serupa. Ekspansi internasional harus memiliki hubungan langsung dengan pembangunan kapabilitas Indonesia.

"Saya tidak ingin Whitesky menjadi global hanya karena beroperasi di banyak negara. Saya ingin Whitesky menjadi relevan secara global karena membawa sesuatu yang dibangun dan dipelajari dari Indonesia," kata Denon.


CEO Whitesky Grup, Denon Prawiraatmaja di Cengkareng Heliport Tangerang. (Metrotvnews.com/Hendrik S)

Denon menambahkan, roadmap ini juga memiliki skala ekonomi yang signifikan. Proyeksinya untuk periode hingga 10 tahun, keseluruhan peluang komersial dari berbagai tahapan pengembangan ekosistem eVTOL diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp7,8 triliun.

"Nilai tersebut merupakan estimasi potensi jangka panjang yang bergantung pada realisasi tahapan pengembangan, bukan nilai kontrak atau transaksi yang seluruhnya telah terjadi pada saat ini," jelas Denon.

Intensi terhadap tambahan hingga 60 unit tersebut dapat mewakili potensi sekitar Rp2,7 triliun, apabila seluruh rencana terealisasi. Pihaknya juga membuka ruang kolaborasi dengan teknologi dan industri lain, termasuk peluang kerja sama jangka panjang dengan ekosistem baterai yang berkembang di Karawang, Jawa Barat.

(Lukman Diah Sari)