Ilustrasi. freepik
Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Ekstrem, BMKG Minta Kesiapsiagaan Lintas Sektor
Atalya Puspa • 14 April 2026 10:07
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dan berdurasi lebih panjang dari kondisi normal.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan penyediaan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika merupakan amanat Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009, yang menjadi dasar peran strategis BMKG dalam mendukung pembangunan nasional.
Faisal menjelaskan kondisi iklim global masih berada pada fase netral, dengan indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) sekitar +0,28. Namun, pada semester kedua 2026, kondisi tersebut diprakirakan berkembang menuju fase El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50–80 persen.
“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena yang berbeda dan tidak selalu terjadi bersamaan. Kemarau tetap akan datang setiap tahun di Indonesia. Namun jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, maka kemarau akan menjadi jauh lebih kering,” jelas Faisal dalam keterangannya, Selasa, 14 April 2026.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Antara lain, respons dini di wilayah berpotensi curah hujan rendah, penguatan manajemen waduk dan irigasi berbasis data, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, serta kampanye efisiensi penggunaan air dan energi.

Ilustrasi. Medcom
Baca Juga:
Hadapi Kemarau dan El Nino 2026, Pemerintah Siapkan Langkah Strategis |
Faisal menegaskan BMKG siap mendukung berbagai sektor pembangunan melalui penyediaan data dan informasi iklim terkini.
“BMKG tidak hanya mengurusi kebencanaan, tetapi juga mendukung sektor pertanian, perhubungan darat, laut, dan udara, serta infrastruktur pekerjaan umum,” ujar dia.
Dia menambahkan dalam pengelolaan sumber daya air, diperlukan keseimbangan agar tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan. Air yang berlebih dapat memicu banjir dan longsor, sementara kekurangan air berisiko menyebabkan kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan.
“Semoga kita semua dapat bersatu dalam langkah yang sama untuk mengantisipasi musim kemarau 2026 yang datang lebih cepat dan lebih panjang ini,” ujar dia.