Dino Patti Djalal Tegaskan Target Transisi Energi Butuh Implementasi Konsisten

Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. Foto: Metrotvnews.com

Dino Patti Djalal Tegaskan Target Transisi Energi Butuh Implementasi Konsisten

Muhammad Reyhansyah • 30 July 2026 05:03

Jakarta: Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai target ambisius dalam transisi energi tidak akan berarti tanpa implementasi yang konsisten. 

Menurutnya, tantangan utama Indonesia saat ini bukan lagi menetapkan sasaran, melainkan memastikan setiap komitmen benar-benar terlaksana.

"Yang kita inginkan bukan hanya target yang ambisius, tetapi implementasi. Pada masa lalu targetnya bagus, tetapi pelaksanaannya tidak didorong secara serius sehingga hasilnya tidak tercapai," kata Dino dalam press briefing Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.

Dino mengatakan FPCI menyambut berbagai langkah pemerintah dalam mempercepat transisi energi, termasuk rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt dalam beberapa tahun ke depan. 

Namun, menurutnya, keberhasilan kebijakan tersebut hanya dapat diukur melalui realisasi di lapangan.

Menurut Dino, pengalaman selama beberapa tahun terakhir menunjukkan banyak target energi terbarukan gagal tercapai karena lemahnya tindak lanjut. Ia mencontohkan target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen yang sebelumnya ditetapkan pemerintah, tetapi realisasinya masih berada di kisaran 11-12 persen.

"Programnya bagus, targetnya bagus, tetapi banyak yang kandas karena implementasinya tidak berjalan dengan baik," katanya.

Implementasi Jadi Fokus

Dino menjelaskan alasan tersebut yang kemudian melatarbelakangi tema "It's Time to Deliver" pada INZS 2026.

Menurut dia, berbagai agenda perubahan iklim kini telah memasuki fase implementasi sehingga keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya komitmen yang diumumkan, melainkan oleh kemampuan merealisasikannya.

Ia mencontohkan Tiongkok sebagai salah satu negara yang dinilai mampu menjalankan target yang telah ditetapkan secara konsisten.

"Yang saya hormati dari Tiongkok, ketika mereka menetapkan target, mereka benar-benar menghitung bahwa target itu akan tercapai, bahkan sering kali melampauinya," ujar Dino.

Selain implementasi kebijakan, Dino mengingatkan Indonesia memiliki waktu yang semakin sempit untuk menekan laju emisi apabila ingin mencapai target net-zero pada pertengahan abad.

Ia menilai dekade 2020-2030 merupakan periode paling menentukan dalam upaya membatasi kenaikan suhu global. Karena itu, berbagai langkah pengurangan emisi harus mulai dijalankan sekarang, bukan menunggu hingga satu atau dua dekade mendatang.

"Kita punya waktu yang terbatas. Kalau baru mulai serius pada 2040 atau 2045, itu sudah terlambat. Kita harus mulai sekarang," katanya.

Dino menambahkan dampak perubahan iklim kini semakin nyata dirasakan di berbagai belahan dunia, mulai dari gelombang panas ekstrem hingga perubahan pola cuaca. Karena itu, menurutnya, aksi iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai agenda jangka panjang, melainkan kebutuhan yang harus segera diwujudkan melalui kebijakan yang konkret.

(Fajar Nugraha)