Tawuran Terjadi di Bukit Duri, Warga Manggarai Tolak Stigma 'Tukang Tawuran'

Suasana kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan. (Foto: Medcom.id/Christian)

Tawuran Terjadi di Bukit Duri, Warga Manggarai Tolak Stigma 'Tukang Tawuran'

Patrick Pinaria • 22 August 2026 14:05

Jakarta: Tawuran terjadi di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan, pada Jumat, 21 Juli 2026 sore. Peristiwa tersebut menjadi perhatian warga karena sejumlah pemberitaan menyebut lokasi kejadian sebagai Manggarai, sehingga kembali memunculkan keresahan di tengah masyarakat Manggarai yang selama ini kerap dikaitkan dengan aksi tawuran.

Warga Manggarai berharap penyebutan lokasi dalam pemberitaan mengenai sebuah peristiwa dapat dilakukan secara tepat berdasarkan kondisi di lapangan. Ketepatan informasi dinilai penting agar sebuah kejadian tidak kemudian membentuk stigma terhadap wilayah maupun masyarakat yang sebenarnya tidak berkaitan dengan peristiwa tersebut.

"Jangan sampai karena pemberitaan yang tidak tepat, Manggarai terus mendapatkan cap sebagai kampung tawuran. Di sini banyak warga yang bekerja, anak-anak sekolah, pedagang, dan masyarakat yang setiap hari menjalankan aktivitasnya dengan baik," ujar Bayu Andriyanto, tokoh masyarakat sekaligus Ketua RT 011/RW 04 Kelurahan Manggarai.

Menurut Bayu, stigma negatif terhadap sebuah kawasan bukan perkara sederhana. Citra sebuah wilayah dapat berpengaruh terhadap cara orang luar memandang masyarakat yang tinggal di dalamnya, termasuk ketika warga Manggarai berusaha mendapatkan pekerjaan maupun peluang ekonomi.

"Jangan sampai anak-anak Manggarai ke depan sulit mendapatkan peluang kerja karena Manggarai selalu diberikan image negatif. Mereka jangan sampai menanggung akibat dari stigma yang muncul karena pemberitaan atau persepsi yang tidak tepat," katanya.

Hal senada disampaikan Khoirur Rozikin alias Iyung, tokoh pemuda sekaligus Ketua RT 04/RW 12 Kelurahan Manggarai. Ia mengatakan masyarakat Manggarai memahami adanya sejarah tawuran di kawasan tersebut. Namun, menurutnya, fenomena tersebut tidak dapat digunakan untuk menggeneralisasi seluruh masyarakat Manggarai.

"Kalau bicara tawuran Manggarai, dari dulu memang ada titik-titik tertentu. Tetapi jangan kemudian setiap tawuran yang terjadi di sekitar Manggarai langsung disebut tawuran Manggarai atau dianggap dilakukan warga Manggarai," ujar Iyung.

Ia menjelaskan, dalam sejarahnya, titik-titik yang selama ini dikenal berkaitan dengan tawuran di kawasan Manggarai berada di lokasi tertentu, antara lain kolong Manggarai, depan Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, Pintu Air Manggarai, serta area belakang Stasiun Manggarai.

Menurut Iyung, penyebutan lokasi secara spesifik justru penting untuk membantu publik memahami sebuah peristiwa secara proporsional.

"Kalau kejadiannya di Bukit Duri, ya disebut Bukit Duri. Kalau memang ada keterkaitan dengan warga atau kelompok dari Manggarai, tentu itu harus berdasarkan informasi dan fakta di lapangan. Jangan sampai nama satu wilayah langsung menjadi label untuk semua orang yang tinggal di sana," ujarnya.
 



Persoalan ini menjadi semakin penting karena informasi awal mengenai tawuran tersebut juga disampaikan oleh PT KAI Commuter kepada sejumlah media. Informasi tersebut dinilai belum menjelaskan secara spesifik lokasi terjadinya peristiwa, sehingga dapat membuka ruang bagi munculnya persepsi berbeda mengenai wilayah kejadian.

Bagi warga, persoalan tersebut bukan semata soal nama wilayah dalam sebuah judul berita. Penyebutan lokasi memiliki konsekuensi sosial karena pemberitaan mengenai suatu kawasan dapat membentuk persepsi publik dalam jangka panjang.

Manggarai sendiri merupakan kawasan dengan kehidupan masyarakat yang beragam. Di dalamnya terdapat pekerja, pelajar, pedagang, pelaku usaha, keluarga, komunitas pemuda, hingga berbagai kelompok masyarakat yang menjalankan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, warga meminta agar fenomena tawuran tidak dilekatkan secara otomatis kepada identitas sebuah kawasan.

Masyarakat juga tidak menampik bahwa persoalan tawuran harus ditangani secara serius. Namun, penanganan tersebut dinilai perlu dibedakan antara tindakan individu atau kelompok tertentu dengan identitas masyarakat secara keseluruhan.

"Kalau ada yang tawuran, tentu harus ditindak. Kami juga tidak membela tawuran. Tetapi jangan sampai kesalahan orang atau kelompok tertentu kemudian menjadi kesalahan seluruh warga Manggarai," kata Bayu.

Warga berharap aparat, penyelenggara transportasi, maupun media dapat melakukan pengecekan lokasi secara lebih cermat sebelum menyampaikan informasi kepada publik. Bagi masyarakat, akurasi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan sekaligus mencegah stigma terhadap sebuah kawasan.

Pada akhirnya, warga Manggarai ingin dikenal bukan semata karena sejarah tawurannya, tetapi karena kehidupan masyarakatnya yang jauh lebih luas dari peristiwa tersebut.

Sebab, di balik nama Manggarai, terdapat ribuan warga yang setiap hari bekerja, bersekolah, membangun keluarga, membuka usaha, dan berusaha memperbaiki kehidupannya. Mereka berharap satu peristiwa tidak menghapus seluruh cerita tentang masyarakat yang hidup di dalamnya.

(Patrick Pinaria)