Jajaran petinggi berkumpul dalam KTT NATO di Ankara, Turki, Selasa, 7 Juli 2026. (Anadolu Agency)
KTT NATO Dimulai di Ankara, Anggaran Pertahanan dan Isu Ukraina Jadi Sorotan
Willy Haryono • 8 July 2026 07:01
Ankara: Para pemimpin negara anggota NATO mulai berkumpul di Ankara, Turki pada Selasa, 7 Juli 2026, dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) yang diperkirakan didominasi pembahasan mengenai peningkatan anggaran pertahanan, perang Rusia-Ukraina, serta peran Amerika Serikat (AS) di dalam aliansi.
KTT berlangsung di tengah tekanan baru dari Presiden AS Donald Trump yang kembali mendesak negara-negara anggota untuk meningkatkan kontribusi pertahanan mereka.
Dalam KTT NATO tahun lalu, para anggota menyepakati target baru berupa alokasi 5 persen produk domestik bruto (PDB) untuk kebutuhan pertahanan, yang terdiri dari 3,5 persen untuk belanja militer hingga 2035 dan 1,5 persen untuk kebutuhan keamanan lainnya.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu, 8 Juli 2026, seluruh 32 negara anggota NATO menghadiri pertemuan di Ankara tahun ini.
Selain itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung juga hadir sebagai pemimpin negara nonanggota aliansi.
Australia, Jepang, dan Selandia Baru mengirimkan menteri pertahanan atau menteri luar negeri mereka. Sementara itu, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab turut mengirim delegasi di tengah dampak konflik Iran-AS-Israel terhadap kawasan Timur Tengah.
Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa tidak dijadwalkan menghadiri KTT, namun diperkirakan akan menggelar pertemuan bilateral dengan Trump di Ankara.
Tekanan Trump soal Anggaran Pertahanan
Trump sejak lama mempertanyakan besarnya kontribusi AS terhadap NATO dan menilai Washington menanggung beban yang tidak seimbang dibanding negara anggota lainnya.Menurut Direktur Regional German Marshall Fund untuk Turki, Ozgur Unluhisarcikli, fokus utama NATO tahun ini adalah menerjemahkan peningkatan anggaran menjadi kemampuan militer yang nyata.
"Tahun ini pembahasannya adalah bagaimana mengubah pengeluaran menjadi kapabilitas. Karena itu, NATO berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding tahun lalu," katanya.
Namun Presiden Global Policy Institute Paolo von Schirach menilai peningkatan anggaran pertahanan tidak otomatis menghasilkan kemampuan militer dalam waktu singkat.
"Anda bisa menghabiskan banyak uang tetapi tidak langsung memperoleh banyak kemampuan baru," ujarnya.
Ukraina Cari Dukungan Tambahan
Zelensky dijadwalkan bertemu Trump secara bilateral pada Rabu.Dalam pertemuan tersebut, pemimpin Ukraina itu diperkirakan akan kembali meminta tambahan sistem pertahanan udara Patriot di tengah meningkatnya serangan Rusia ke kota-kota Ukraina.
Sedikitnya 11 orang dilaporkan tewas dalam serangan drone Rusia ke Kyiv pada Senin.
Peneliti senior Royal United Services Institute, Jack Watling, mengatakan Ukraina membutuhkan jaminan dukungan politik dan militer jangka panjang dari negara-negara NATO.
Menurutnya, tujuan utama dukungan tersebut adalah menunjukkan kepada Rusia bahwa kemampuan pertahanan Ukraina tidak akan melemah dalam 12 hingga 24 bulan mendatang.
Baca juga: Trump Klaim Solusi Perang Ukraina Kian Dekat usai Bicara dengan Putin dan Zelensky
Keseimbangan dengan Washington
Negara-negara Eropa diperkirakan akan mengumumkan kontrak pertahanan bernilai miliaran dolar selama KTT berlangsung.Sejumlah analis menilai langkah tersebut juga bertujuan menjaga hubungan dengan pemerintahan Trump yang kerap mengkritik kontribusi pertahanan negara-negara Eropa.
Menjelang KTT, Trump menyebut pengeluaran pertahanan Jerman masih "tidak masuk akal". Kanselir Jerman Friedrich Merz membela kebijakan negaranya dan menyebut anggaran tersebut sebagai upaya terbesar dalam sejarah modern Jerman untuk memperkuat kemampuan pertahanan.
Di saat yang sama, AS juga mengumumkan penarikan bertahap sejumlah pesawat tempur, kapal perusak, dan kapal selam dari negara-negara NATO di Eropa.
Para analis menilai KTT Ankara menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa NATO masih mampu mempertahankan persatuan politik di tengah perbedaan kepentingan di antara para anggotanya.
"KTT ini lebih banyak berkaitan dengan memberikan rasa aman dan sinyal politik dibanding menghasilkan perubahan konkret yang langsung terlihat di lapangan," kata von Schirach.