Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
Bukan Sekadar Tambah Aset, Ini Tantangan Keluarga Kaya
Ade Hapsari Lestarini • 4 November 2026 20:47
Jakarta: Mempertahankan nilai kekayaan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi keluarga affluent atau kelompok masyarakat kelas atas di tengah ketidakpastian global. Tantangannya bukan lagi sekadar menambah aset dan mengumpulkan kekayaan, melainkan memastikan aset yang dimiliki tetap produktif, terlindungi, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Certified Financial Planner (CFP) Wealth Management Institute (WMI) Rista Zwestika mengatakan, tantangan perencanaan keuangan keluarga affluent saat ini telah mengalami pergeseran. Jika sebelumnya fokus utama adalah membangun kekayaan, kini perhatian juga perlu diarahkan pada upaya menjaga nilai aset agar tidak tergerus kondisi ekonomi.
Menurut Rista, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam menjaga nilai kekayaan. Dia menyebut depresiasi rupiah dalam satu dekade terakhir mencapai rata-rata sekitar 3,4 persen per tahun.
"Kenaikan dolar itu, atau penurunan rupiah terhadap dolar itu juga cukup signifikan, 3,4 persen gitu ya. Kalau misalnya tadi kita masukin ke dalam obligasi, itu bisa diperturunkan kurang lebih 7,3 persen," kata Rista dalam konferensi pers Prudential Indonesia, Rabu, 4 November 2026.
Dia menilai masyarakat perlu mempertimbangkan kembali komposisi aset yang dimiliki agar tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan kebutuhan likuiditas dan perlindungan terhadap risiko.
Rista mencontohkan pengalaman seorang temannya yang memiliki tiga rumah dengan nilai properti mencapai miliaran rupiah. Namun, aset tersebut justru menjadi beban karena tidak seluruhnya ditempati dan membutuhkan biaya pemeliharaan sekitar Rp15 juta setiap bulan.
Dia bercerita, temannya sempat berencana menjual salah satu rumah yang dibeli seharga Rp4,8 miliar. Meski berdasarkan perkiraan harga pasar nilainya telah mencapai Rp7 miliar, properti tersebut tidak kunjung terjual selama hampir dua tahun.
Bahkan, ketika ada calon pembeli yang menawar Rp4,3 miliar, temannya harus mempertimbangkan kemungkinan menjual aset tersebut di bawah harga pembelian.
Menurut Rista, pengalaman tersebut menunjukkan kenaikan nilai aset di atas kertas tidak selalu berarti aset mudah dicairkan ketika pemiliknya membutuhkan dana.
"Kalau dalam ilmu keuangan, ketika kita punya 100 persen aset, 50 persennya dalam bentuk likuid, 50 persennya dalam bentuk tidak likuid," ujar dia.

Certified Financial Planner (CFP) Wealth Management Institute (WMI) Rista Zwestika (kedua dari kanan). Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.
Diversifikasi jadi strategi menjaga nilai kekayaan di tengah volatilitas
Sementara itu, Head of Investment PT Eastspring Investments Indonesia, Liew Kong Qian, mengatakan ketidakpastian pasar keuangan masih perlu diwaspadai, baik dari sisi global maupun domestik.
Dia menyoroti sejumlah indikator global, mulai dari volatilitas pasar saham Amerika Serikat, kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga perubahan imbal hasil US Treasury. Menurutnya, perubahan imbal hasil obligasi pemerintah AS sekitar 100 basis poin dalam setahun merupakan pergerakan yang cukup besar bagi pasar modal.
Sementara dari sisi domestik, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun, tantangan pasar saham terkait MSCI, serta pelemahan rupiah turut menambah ketidakpastian.
Liew menilai, kondisi tersebut membuat investor tidak bisa hanya mengandalkan perkiraan arah pasar dalam menentukan instrumen investasi. Dia menyebut situasi pasar masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, baik pada tahun ini maupun tahun depan.
"Because of volatility in this year, ataupun tahun ke depan, the situation has not cleared up," ungkap Liew.
Karena itu, dia menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dengan mempertimbangkan jangka waktu investasi dan profil risiko masing-masing investor. Menurut Liew, investor dapat mengombinasikan aset defensif dengan instrumen yang berorientasi pada pertumbuhan. Pilihan instrumen dapat mencakup saham, obligasi, deposito, maupun aset lainnya sesuai tujuan dan kebutuhan investasi.
Dia menambahkan, diversifikasi mata uang juga dapat menjadi pertimbangan bagi keluarga yang memiliki kebutuhan finansial dalam dolar AS, seperti biaya pendidikan di luar negeri, kesehatan, maupun perjalanan.
Meski demikian, penempatan aset dalam mata uang asing tetap perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan. Dengan begitu, investor tidak sekadar mengikuti pergerakan nilai tukar, tetapi memiliki perencanaan yang jelas mengenai kebutuhan dana di masa mendatang. (Selsha Septifanie Gunawan)