Direktur PT Zurich Indonesia Musi Samosir. Foto: dok Zurich Indonesia.
Survei Zurich: 34% Responden Indonesia Belum Punya Dana Cadangan
Ade Hapsari Lestarini • 3 November 2026 21:23
Jakarta: Studi yang dilakukan Zurich Insurance bersama University of Oxford mengungkapkan hanya 43 persen dari total responden di 16 negara yang memiliki tingkat ketahanan finansial kuat. Temuan ini menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum yakin mampu mempertahankan standar hidup apabila penghasilannya terhenti.
Direktur PT Zurich Indonesia Musi Samosir mengatakan, studi bertajuk The Resilient Workforce tersebut melibatkan lebih dari 11 ribu responden di 16 negara, termasuk Indonesia. Survei ini mengukur ketahanan individu (resilience) melalui tiga aspek, yakni keyakinan (belief), kemampuan (capability), dan perilaku (behavior). Ketiganya mencakup lima dimensi ketahanan, yaitu fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital.
Dalam konteks studi tersebut, resilience merujuk pada kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan, mengatasi tantangan, serta beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupannya. Dengan demikian, seseorang yang memiliki ketahanan tinggi bukan berarti selalu berada dalam kondisi baik-baik saja, tetapi memiliki kemampuan untuk melewati situasi sulit dan kembali mencapai kondisi yang stabil.
"Ternyata hanya 43 persen dari responden kita yang memiliki tingkat ketahanan finansial yang kuat," ungkap Musi, saat konferensi pers Zurich Asuransi Indonesia di Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
Mengukur ketahanan finansial
Menurut dia, salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur ketahanan finansial adalah kemampuan responden menyediakan tabungan yang cukup untuk mempertahankan standar hidup selama beberapa bulan apabila penghasilan mereka terhenti.
Musi menjelaskan, persoalan ketahanan finansial tidak hanya ditemukan di negara berkembang. Sejumlah negara maju dengan tingkat pendapatan relatif tinggi juga menghadapi tantangan serupa.
"Ada negara-negara yang memang pendapatannya itu termasuk tinggi, tapi responden di negara tersebut tetap merasa kurang yakin dengan kemampuan mereka untuk bisa bertahan dengan standar hidup tertentu apabila income mereka terhenti," kata dia.
Di Indonesia, sebanyak 34 persen responden belum memiliki dana cadangan yang cukup. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata global yang mencapai 49 persen.

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Edhi Tjahja Negara. Foto: dok Zurich.
Meski demikan, Indonesia mencatatkan skor resilience atau ketahanan individu sebesar 4,37 dari skala 5. Angka tersebut berada di atas rata-rata global sebesar 4,11 dan hanya terpaut 0,01 poin dari negara dengan skor tertinggi dalam survei, yakni 4,38.
Musi mengatakan, capaian Indonesia juga berada di atas rata-rata global pada kelima dimensi ketahanan yang diukur, yaitu fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital.
"Not only that we are not bad, karena yang skor paling tinggi di survey itu, negara yang skornya paling tinggi itu 4,38. Jadi artinya kita itu cuma satu di bawah skor yang paling tinggi. Secara rata-rata global itu ada di 4,11. Artinya kita jauh di atas rata-rata global," ujar Musi.
Ketahanan individu berkaitan dengan performa kerja
Studi The Resilient Workforce juga menemukan hubungan antara tingkat ketahanan individu dan performa kerja. Sebanyak 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan kinerja yang baik atau sangat baik. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan pekerja dengan tingkat resilience terendah, yakni 44 persen.
Temuan tersebut menunjukkan ketahanan individu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi tekanan dan perubahan, tetapi juga memiliki hubungan dengan performa seseorang di lingkungan kerja. Bahkan, studi tersebut mencatat keterkaitan antara resilience dan kinerja kerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan.
Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Edhi Tjahja Negara mengatakan, perhatian terhadap kesejahteraan pekerja perlu bergeser dari penanganan masalah setelah terjadi menjadi upaya pencegahan sejak dini.
"Well-being itu berubah. Dari sebelumnya kita hanya berbicara mengenai reactive intervention, jadi kalau orang sudah sakit, sudah punya masalah, ada chronic disease, tapi berubah dari reactive intervention menjadi proactive care. Jadi lebih awal," ujar Edhi.
Menurut dia, kesejahteraan pekerja tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental, sosial, dan finansial. Karena itu, upaya membangun lingkungan kerja yang sehat perlu memperhatikan berbagai aspek tersebut agar pekerja mampu menghadapi tekanan dan perubahan.
Edhi menilai, kesejahteraan pekerja menjadi salah satu hal penting dalam membangun ketahanan tenaga kerja. Sebab, kondisi pekerja yang sehat dan terlindungi turut menjadi bagian dari upaya menciptakan dunia kerja yang lebih tangguh. (Selsha Septifanie Gunawan)