Poltekpel Malahayati Siap Kooperatif Ungkap Penyebab Kematian Rasya Fadhillah

Direktur Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, Andi Fiardi. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati

Poltekpel Malahayati Siap Kooperatif Ungkap Penyebab Kematian Rasya Fadhillah

Fajri Fatmawati • 30 September 2026 14:39

Banda Aceh: Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati melakukan penelusuran internal terkait meninggalnya calon taruna Muhammad Rasya Fadhillah. Penelusuran dilakukan dengan memeriksa sejumlah dokumen dan rekaman serta berkoordinasi dengan rumah sakit.

Direktur Poltekpel Malahayati Andi Fiardi mengatakan pihak kampus siap memberikan informasi dan data yang diperlukan kepolisian untuk mendukung proses pemeriksaan mengenai penyebab kematian Fadhillah.

“Kami selalu siap memberikan keterangan maupun data yang diperlukan apabila diminta oleh pihak kepolisian,” kata Andi Fiardi, Rabu, 30 September 2026.

Andi menyebut Polres Banda Aceh terlibat dalam penanganan perkara tersebut. Berdasarkan informasi awal yang diterima pihak kampus, pemeriksaan sementara belum menemukan indikasi kekerasan.

“Pihak Kepolisian, dalam hal ini Polres Banda Aceh, telah terlibat menangani kasus ini. Berdasarkan informasi awal yang kami terima, dalam pemeriksaan sementara tidak ditemukan indikasi kekerasan,” ujarnya.

Meski demikian, Andi menegaskan penyebab kematian Fadhillah belum dapat dipastikan. Kepastian medis masih menunggu hasil pemeriksaan dan visum dari pihak berwenang.

“Penentuan penyebab meninggal dunia secara medis masih menunggu hasil pemeriksaan dan visum dari pihak yang berwenang, yang diperkirakan memerlukan waktu kurang lebih tujuh hari,” jelas Andi.
 


Poltekpel Malahayati juga menyatakan masih terdapat sejumlah informasi medis yang perlu diperiksa lebih lanjut. Data tersebut mencakup catatan tim medis dan informasi dari RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

Atas kondisi tersebut, pihak kampus meminta semua pihak memberikan ruang bagi proses pemeriksaan agar berjalan secara objektif dan tidak menarik kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan diperoleh.

Poltekpel Malahayati menyatakan siap bersikap terbuka dan kooperatif selama proses penyelidikan berlangsung. Jika dalam proses pemeriksaan ditemukan pelanggaran disiplin atau tindak kekerasan oleh pihak mana pun, kampus menyatakan akan mendukung penanganannya sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami meminta agar seluruh pihak memberikan ruang bagi proses pemeriksaan medis dan penyelidikan untuk berjalan secara objektif. Perkembangan lebih lanjut akan disampaikan melalui saluran resmi berdasarkan informasi yang telah terverifikasi,” tutup Andi Fiardi.


Personel Satreskrim Polresta Banda Aceh saat melakukan penyelidikan terkait meninggalnya taruna Poltekpel Malahayati Aceh, di RSUDZA Banda Aceh, Minggu, 27 September 2026. (ANTARA/HO/Humas Polresta Banda Aceh)


Poltekpel Tegaskan Orientasi Tanpa Kekerasan

Andi juga menegaskan kegiatan orientasi calon taruna di Poltekpel Malahayati tidak dirancang maupun dilaksanakan dalam bentuk kekerasan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah meninggalnya Fadhillah yang sempat menjalani perawatan di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh.

Kegiatan orientasi pembentukan karakter berlangsung pada 4-14 September 2026 dan diikuti 251 calon taruna. Materi kegiatan meliputi pengenalan lingkungan kampus, kuliah umum yang menghadirkan instansi pemerintah, serta latihan baris-berbaris.

“Perlu kami tegaskan pula bahwa kegiatan orientasi tersebut tidak dirancang maupun dilaksanakan menjurus bentuk kekerasan apapun. Demikian pula, kegiatan rutin di kampus tidak melibatkan interaksi antara senior dan yunior sebagai upaya untuk mencegah potensi terjadinya bullying,” kata Andi, Rabu, 30 September 2026.

Fadhillah merupakan calon taruna Program Studi Sistem Kelistrikan Kapal (SKK) yang diterima melalui seleksi program mandiri calon taruna Tahun 2026. Setelah menyelesaikan kegiatan orientasi, Fadhillah mulai mengikuti pembelajaran di kelas dan berbagai kegiatan rutin kampus sejak 14 September 2026.

Menurut Andi, Fadhillah mulai mengalami keluhan kesehatan pada Sabtu, 26 September 2026. Saat itu, calon taruna tersebut mengalami demam dan mendapat penanganan awal dari dokter serta tim medis Poliklinik Poltekpel Malahayati.

“Kami telah berupaya memberikan penanganan sesuai prosedur kepada ananda sejak yang bersangkutan mengalami sakit pada Sabtu, 26 September 2026 dengan keluhan demam. Penanganan semula dilakukan oleh dokter dan tim medis di Poliklinik Poltekpel Malahayati,” ungkapnya.

Kondisi Fadhillah kemudian mengalami perubahan setelah muncul ruam atau bintik pada tubuh yang semakin bertambah. Karena kondisinya tidak membaik, pihak kampus merujuk Fadhillah ke RSUD dr. Zainoel Abidin untuk menjalani pemeriksaan laboratorium dan memperoleh penanganan lebih lanjut di instalasi gawat darurat (IGD).

"Pada Minggu, 27 September 2026 pukul 16.14 WIB, kondisi Fadhillah dilaporkan menurun secara mendadak dan dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit tersebut," jelas Andi.

Poltekpel Malahayati menyatakan penelusuran internal dan proses pemeriksaan oleh pihak berwenang masih berjalan. Kampus menegaskan informasi mengenai penyebab kematian Fadhillah akan mengikuti hasil pemeriksaan medis dan proses penyelidikan yang dilakukan pihak berwenang.

(Whisnu M)