Mengapa Dolar AS Menjadi Mata Uang Dominan di Dunia? Ini Penjelasannya

Mata uang Dolar AS. (Freepik)

Mengapa Dolar AS Menjadi Mata Uang Dominan di Dunia? Ini Penjelasannya

Willy Haryono • 21 October 2026 15:08

Jakarta: Dolar Amerika Serikat (USD) menjadi mata uang dominan dunia setelah melalui perjalanan panjang yang dipengaruhi perang dunia, perubahan sistem moneter internasional, dan besarnya pasar keuangan AS.

Saat ini, dolar digunakan secara luas dalam perdagangan internasional, menjadi acuan harga sejumlah komoditas, serta disimpan oleh bank sentral sebagai bagian dari cadangan devisa. Peran tersebut membuat perubahan nilai dolar dapat berdampak pada berbagai negara, mulai dari harga barang impor hingga pergerakan pasar keuangan.

Dominasi dolar tidak terbentuk dalam waktu singkat. Pergeseran kekuatan ekonomi dunia dari Inggris ke AS, kesepakatan moneter setelah Perang Dunia II, dan perkembangan pasar keuangan AS menjadi sejumlah faktor yang menopang posisi mata uang tersebut.

Lantas, bagaimana dolar AS bisa menjadi mata uang dominan dunia, dan apa yang membuat perannya bertahan hingga kini? Merangkum dari berbagai sumber, berikut penjelasannya.

Dari Poundsterling ke Dolar AS

Dolar AS ditetapkan sebagai mata uang resmi AS melalui Coinage Act pada 1792. Namun, pada masa awal, pengaruhnya masih terbatas di luar negeri. Perdagangan dan keuangan internasional saat itu banyak bertumpu pada poundsterling, sejalan dengan posisi Inggris sebagai kekuatan imperium dan perdagangan dunia.

Perubahan mulai terjadi selama Perang Dunia I. Negara-negara Eropa membeli bahan pangan, barang industri, dan perlengkapan militer dari AS. Untuk membiayai pembelian itu, mereka menggunakan cadangan emas, sementara posisi Inggris sebagai kreditur utama dunia ikut melemah.

Setelah perang, AS muncul sebagai negara kreditur terbesar. Perubahan ini menjadi salah satu landasan bagi pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Peran dolar kemudian semakin kuat setelah Perang Dunia II, ketika negara-negara mulai merancang sistem keuangan internasional yang baru.

Bretton Woods Mengukuhkan Dolar

Pada 1944, perwakilan dari 44 negara Sekutu bertemu di Bretton Woods, AS. Mereka membahas sistem moneter yang dinilai dapat mendukung pemulihan ekonomi setelah perang. Saat itu, AS berada dalam posisi kuat dan memiliki sebagian besar cadangan emas dunia.

Dalam kesepakatan Bretton Woods, banyak negara mengaitkan nilai mata uangnya dengan dolar AS. Pemerintah AS, pada saat itu, berkomitmen menukar dolar dengan emas pada harga tetap US$35 per ons. Sistem tersebut menjadikan dolar sebagai acuan utama dalam hubungan moneter internasional.

Sistem Bretton Woods berakhir pada 1971 setelah Presiden Richard Nixon menghentikan penukaran dolar dengan emas. Keputusan itu dikenal sebagai Nixon Shock. Namun, posisi dolar tidak serta-merta hilang. Perdagangan minyak dalam dolar, termasuk melalui kesepakatan AS dan Arab Saudi pada 1974, ikut menopang permintaan global terhadap mata uang tersebut.

Mengapa Dolar Masih Dominan?

Dominasi dolar bertahan karena kebiasaan, infrastruktur, dan kepercayaan yang terbentuk selama puluhan tahun. Dolar digunakan luas dalam perdagangan lintas negara, transaksi valuta asing, dan cadangan devisa bank sentral. Perannya juga ditopang oleh pasar keuangan AS yang besar dan likuid.

Pasar surat utang pemerintah AS menjadi salah satu faktor penting. Investor dan bank sentral dapat membeli atau menjual aset dalam jumlah besar dengan relatif mudah. Tingginya permintaan terhadap surat utang AS juga membantu pemerintahnya memperoleh pembiayaan, sementara perusahaan Amerika dapat bertransaksi secara internasional menggunakan mata uang sendiri.

Sejumlah negara kini berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar, tetapi mencari pengganti dengan jangkauan dan likuiditas serupa bukan perkara mudah. Porsi dolar dalam cadangan devisa global memang menurun dibandingkan awal 2000-an, tetapi mata uang ini masih memegang peran besar dalam perdagangan dan keuangan internasional. Jadi, dorongan dedolarisasi belum dengan sendirinya mengakhiri dominasi dolar. (Razaqa Hariz)



Baca juga: 10 Mata Uang dengan Nilai Tukar Tertinggi di Dunia

(Willy Haryono)