Sebuah robot humanoid Home Team menirukan gerakan tangan lincah seorang operator jarak jauh di Home Team Humanoid Robotics Centre (H2RC) pada 24 September 2026. (Foto: CNA/Syamil Sapari)
Singapura Kembangkan Robot Humanoid untuk Bantu Petugas Keamanan Mulai 2028
Angel Rinella • 6 October 2026 10:54
Jakarta: Singapura mulai mengembangkan robot humanoid yang nantinya dapat membantu petugas keamanan menjalankan tugas di lapangan. Teknologi tersebut dikembangkan dan diuji di Home Team Humanoid Robotics Centre (H2RC) di One-North yang resmi dibuka pada Rabu, 30 September 2026.
Robot tersebut disiapkan untuk membantu polisi dalam penyelidikan setelah ledakan serta petugas penjara saat melakukan pemeriksaan sel. Targetnya, robot humanoid pertama dapat bekerja bersama petugas Home Team dalam kondisi operasional nyata mulai 2028.
Wakil Menteri Kedua Dalam Negeri Singapura, Edwin Tong, menyampaikan target tersebut saat meresmikan H2RC. Ia mengatakan robot humanoid nantinya akan menjalankan tugas yang telah ditentukan dengan aman dan andal.
“Tujuan kami jelas, yakni menghadirkan robot humanoid pertama yang dapat bekerja bersama petugas Home Team dalam situasi operasional nyata pada 2028. Robot tersebut nantinya menjalankan tugas tertentu dengan aman dan andal,” ujar Edwin Tong dilansir Channel News Asia, Selasa, 6 Oktober 2026.
H2RC disebut sebagai pusat pertama yang secara khusus mengembangkan robot humanoid untuk kebutuhan keselamatan publik. Bentuk humanoid dipilih karena dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dirancang untuk manusia.
Home Team Science and Technology Agency (HTX) menyebut sektor komersial saat ini lebih banyak mengembangkan robot humanoid untuk manufaktur, rumah tangga, dan kebutuhan konsumen. Sementara itu, pengembangan embodied artificial intelligence (AI) untuk keselamatan publik masih lebih terbatas.
Pusat tersebut memiliki luas sekitar enam lapangan basket dan menyediakan lingkungan simulasi untuk berbagai skenario keselamatan publik. H2RC juga mendukung pengembangan embodied AI melalui motion capture, teleoperation, demonstrasi manusia, serta simulasi untuk menghasilkan data pelatihan.
Edwin mengatakan Home Team telah memanfaatkan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesadaran situasi, membantu pengambilan keputusan, dan mendukung petugas di lapangan. Menurutnya, robot menjadi langkah berikutnya untuk membawa AI dari dunia digital ke lingkungan fisik.
“Sekarang waktunya mengambil langkah berikutnya dengan membawa AI dari dunia digital ke dunia fisik. Kami ingin menghadirkan robot cerdas yang dapat bekerja bersama petugas dalam situasi operasional nyata,” katanya.

Sebuah robot humanoid Home Team mengevaluasi dan mengidentifikasi berbagai objek di depannya sebelum menjalankan tugas di Home Team Humanoid Robotics Centre (H2RC) pada 24 September 2026. (Foto: CNA/Syamil Sapari)
Potensi Penggunaan Robot Humanoid
HTX menyebut robot humanoid akan dilatih untuk membantu pekerjaan rutin, tugas yang membutuhkan tenaga fisik, hingga pekerjaan berbahaya. Kehadiran robot diharapkan membuat petugas dapat fokus pada pekerjaan yang membutuhkan penilaian, empati, dan kebijaksanaan.
Dalam peluncuran H2RC, HTX memperlihatkan empat robot humanoid yang sedang dikembangkan. Salah satunya disiapkan untuk menangani, mengurangi dampak, dan mengambil sampel material berbahaya atau HazMat bagi Singapore Civil Defence Force (SCDF), sehingga paparan petugas terhadap zat berbahaya dapat dikurangi.
Robot lainnya dapat membantu Singapore Police Force (SPF) dalam penyelidikan setelah ledakan. Robot tersebut bisa dikendalikan dari jarak jauh dan mampu berlutut untuk menjalankan tugas di area dekat permukaan tanah, kemampuan yang belum dimiliki robot humanoid komersial.
Teknologi humanoid juga dikembangkan untuk membantu Singapore Prison Service (SPS) melakukan pemeriksaan sel guna mencari barang terlarang. HTX akan mengeksplorasi penggunaan tangan humanoid yang cekatan, kendali motorik presisi, serta sensor sentuhan beresolusi tinggi untuk mendukung tugas tersebut.
SCDF juga dapat memanfaatkan robot untuk pekerjaan rutin seperti mengisi kembali persediaan medis di ambulans. Tugas berulang ini dapat dilakukan robot sehingga petugas dapat menangani pekerjaan lain yang membutuhkan keahlian manusia.
Edwin mengatakan lembaga keselamatan publik di berbagai negara telah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keselamatan petugas. Ia mencontohkan robot yang digunakan pemadam kebakaran Paris saat kebakaran Katedral Notre-Dame pada 2019 serta robot yang membantu pembersihan fasilitas nuklir Fukushima.
Menurut Edwin, teknologi tersebut semakin dibutuhkan Singapura karena menghadapi keterbatasan tenaga kerja yang semakin menua. Pada saat yang sama, kebutuhan layanan meningkat akibat populasi lanjut usia, aktivitas di titik pemeriksaan yang semakin padat, serta kejahatan yang semakin kompleks.
“Home Team menghadapi keterbatasan tenaga kerja yang sama seperti sektor lainnya. Jumlah sumber daya manusia di Singapura terbatas, sementara kebutuhan terhadap layanan kami terus meningkat,” ujar Edwin.
Keterbatasan lahan juga menjadi alasan pengembangan robot humanoid karena kondisi darurat di Singapura dapat terjadi di kawasan padat, gedung tinggi, ruang sempit, hingga area bawah tanah. Kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan cepat dan tepat dengan ruang kesalahan yang sangat kecil.
“Kami tidak memiliki ruang yang luas atau jarak yang jauh antara satu infrastruktur dan lainnya. Karena itu, insiden sering terjadi di ruang yang sempit dan dekat dengan masyarakat,” katanya.
Edwin menjelaskan robot humanoid dipilih karena bentuknya memungkinkan robot memasuki lokasi yang dapat dijangkau petugas dan menggunakan peralatan yang sama. Dengan cara ini, lingkungan yang sudah tersedia tidak perlu diubah secara khusus untuk mengakomodasi robot.
Pengembangan berikutnya diarahkan dari robot yang hanya menjalankan program tertentu menuju embodied AI yang mampu belajar, memahami kondisi, melakukan penalaran, dan bertindak dalam situasi nyata. Edwin menilai robot yang dilatih untuk lingkungan pabrik belum tentu mampu bekerja secara aman di lokasi insiden kritis.
“Robot yang dilatih untuk bekerja di lingkungan pabrik belum tentu bisa bekerja dengan aman dan efektif ketika menghadapi situasi insiden kritis,” ujar Edwin.
Ia mengatakan robot untuk Home Team perlu dilatih menggunakan data keselamatan publik yang nyata. H2RC disiapkan untuk mendukung proses tersebut melalui pengembangan dan pengujian berbasis situasi lapangan.
“Untuk membuat robot humanoid bisa digunakan Home Team, kami harus melatihnya menggunakan data keselamatan publik yang nyata. H2RC akan menjadi tempat untuk mewujudkan kebutuhan tersebut,” katanya.
H2RC juga akan menggabungkan keahlian industri dengan kemampuan penelitian dan akademik untuk mengembangkan teknologi tersebut. Pada hari peresmian, HTX dan ST Engineering turut menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kerja sama di bidang robot humanoid.