Korban Wabah Ebola di Kongo Bertambah Jadi 87 Orang, Uganda dan Kenya Siaga

Petugas menggunakan alat pelindung diri dalam menangani wabah Ebola. (Anadolu Agency)

Korban Wabah Ebola di Kongo Bertambah Jadi 87 Orang, Uganda dan Kenya Siaga

Dimas Chairullah • 17 May 2026 17:15

Bunia: Jumlah korban tewas akibat wabah Ebola di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, dilaporkan bertambah menjadi sedikitnya 87 orang.

Otoritas kesehatan Afrika kini memperingatkan adanya “penularan komunitas aktif” yang memperbesar risiko penyebaran lintas wilayah.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) menyatakan para petugas medis saat ini tengah mempercepat proses pemeriksaan, pelacakan kontak, dan pengawasan kesehatan untuk menekan penyebaran virus mematikan tersebut.

Situasi di lapangan disebut semakin mengkhawatirkan. Warga di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, menggambarkan meningkatnya angka kematian dan proses pemakaman yang terjadi hampir setiap hari.

“Setiap hari, orang-orang meninggal, dan ini sudah berlangsung sekitar seminggu. Dalam sehari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang,” ujar warga Bunia, Jean Marc Asimwe, dikutip AsiaOne, Minggu, 17 Mei 2026.

Data terbaru Africa CDC mencatat terdapat 336 kasus suspek dan 13 kasus positif Ebola yang telah dikonfirmasi laboratorium. Dari kasus positif tersebut, empat pasien dilaporkan meninggal dunia.

Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya mengatakan wabah pertama kali terdeteksi di zona kesehatan Mongwalu, wilayah pertambangan dengan mobilitas penduduk yang tinggi.

Menurutnya, penyebaran kemudian meluas ke Rwampara dan Bunia setelah sejumlah pasien berpindah lokasi untuk mencari pengobatan. “Penularan komunitas aktif di Mongwalu membuat pelacakan kontak menjadi jauh lebih sulit,” kata Kaseya.

Dari total 87 korban meninggal, sebanyak 57 kematian tercatat di Mongwalu, 27 di Rwampara, dan tiga lainnya di Bunia.

Varian Bundibugyo

Menteri Kesehatan Kongo Samuel-Roger Kamba mengonfirmasi wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola varian Bundibugyo. Varian tersebut berbeda dari strain Zaire yang selama ini paling sering ditemukan dalam wabah Ebola di Kongo.

Kasus awal diduga berasal dari seorang perawat di Bunia yang meninggal pada 24 April setelah mengalami gejala demam, pendarahan, muntah, dan kelemahan parah.

Wabah ini menjadi wabah Ebola ke-17 di Republik Demokratik Kongo sejak virus tersebut pertama kali ditemukan pada 1976.

Upaya penanganan di Ituri juga diperumit oleh konflik bersenjata dan aktivitas kelompok militan di kawasan tersebut, yang membatasi mobilitas tim medis dan pengawasan kesehatan.

Selain itu, kapasitas pengujian laboratorium masih terbatas. Hingga kini baru 13 sampel yang diperiksa di Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo, dengan delapan di antaranya dinyatakan positif varian Bundibugyo.

Uganda dan Kenya Tingkatkan Kewaspadaan

Penyebaran Ebola kini mulai memicu kekhawatiran regional setelah Uganda mengonfirmasi satu kasus impor dari Kongo. Pasien tersebut meninggal di Rumah Sakit Muslim Kibuli, Kampala, pada 14 Mei lalu.

Meski belum ditemukan penularan lokal di Uganda, warga mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap potensi wabah baru. “Saya benar-benar takut karena saya teringat pandemi Covid-19,” ujar warga Kampala, Ismail Kigongo.

Sementara itu, Kenya meningkatkan status kewaspadaan dan memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk perbatasan guna mencegah masuknya virus Ebola.

Baca juga:  WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Darurat Kesehatan Internasional

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)