Militer AS telah beberapa kali menargetkan kapal yang diduga membawa narkoba di perairan Pasifik. (Anadolu Agency)
Militer AS Serang Kapal Diduga Kartel Narkoba, Dua Orang Tewas
Willy Haryono • 29 May 2026 06:00
Washington: Militer Amerika Serikat menewaskan dua pria dalam serangan terhadap kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba di Samudra Pasifik bagian timur, Rabu, 27 Mei 2026. Serangan itu menjadi aksi fatal kedua dalam dua hari terakhir dalam operasi antinarkoba yang digelar AS.
Komando Selatan Amerika Serikat (SOUTHCOM) menyebut kapal tersebut melintas di jalur yang dikenal sebagai rute perdagangan narkoba dan diduga terlibat dalam aktivitas penyelundupan. Rekaman video udara berdurasi 13 detik memperlihatkan kapal itu terbakar setelah dihantam serangan.
Dilansir dari media UPI, operasi bernama Joint Task Force Southern Spear itu telah menjadi serangan ke-59 sejak kampanye dimulai beberapa bulan lalu. Hingga kini, sedikitnya 196 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian operasi tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat menuduh kapal-kapal yang diserang dioperasikan oleh kartel narkoba dan kelompok kriminal yang telah ditetapkan Presiden Donald Trump sebagai organisasi teroris sejak Januari 2025. Trump juga menyatakan Amerika Serikat sedang berada dalam “konflik bersenjata” melawan kartel narkoba.
Namun, operasi tersebut menuai kritik dari kelompok hak asasi manusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga sejumlah politikus Amerika Serikat. Presiden Kolombia Gustavo Petro bahkan menuduh Trump melakukan pembunuhan setelah seorang nelayan Kolombia tewas dalam serangan sebelumnya.
Para pengkritik menilai operasi militer itu merupakan pembunuhan di luar proses hukum karena dilakukan tanpa dakwaan maupun persidangan. Pelapor khusus PBB untuk isu kontraterorisme dan hak asasi manusia, Ben Saul, menyebut perang terhadap “narkoterorisme” sebagai langkah yang tidak tepat.
“Pembunuhan di luar proses hukum ini secara serius melanggar hak hidup,” kata Ben Saul dalam laporan pada pertengahan Maret lalu.
Saul juga meminta pemerintah Amerika Serikat menangani akar persoalan krisis opioid melalui pendidikan, layanan kesehatan publik, dan perlindungan komunitas rentan. Ia turut mendesak Washington mengendalikan peredaran senjata militer buatan AS yang disebut banyak jatuh ke tangan kartel di kawasan Amerika Latin. (Keysa Qanita)
Baca juga: AS Kembali Serang Kapal Diduga Selundupkan Narkoba di Pasifik, Satu Orang Tewas