Presiden Prabowo Subianto disambut PM Jepang Sanae Takaichi. Foto: Istimewa
Prabowo Pamer Peran Vital Satgas Debottlenecking di Jepang
Siti Yona Hukmana • 1 April 2026 15:13
Tokyo: Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia untuk mempercepat investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional, dengan memangkas berbagai hambatan birokrasi. Hal itu dikatakan Presiden Prabowo saat berpidato dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin, 30 Maret 2026.
Kemudian, Presiden secara khusus memuji efektivitas Gugus Tugas Khusus Debottlenecking di hadapan para investor Jepang. Satgas ini dibentuk sebagai solusi cepat bagi para pengusaha yang menghadapi kendala administratif maupun hambatan bisnis lainnya di lapangan.
"Kami telah membentuk gugus tugas khusus, yang kami sebut Gugus Tugas Debottlenecking. Perusahaan mana pun di Indonesia, yang aktif di Indonesia, baik asing maupun domestik, yang merasa menghadapi penundaan, rintangan administratif, dieksploitasi, dapat langsung menghubungi Gugus Tugas ini," kata Presiden Prabowo dalam keterangan tertulis, Rabu, 1 April 2026.
“Kami telah menyelesaikan banyak masalah karena langsung menangani masalah inti,” ungkap Prabowo.
Presiden bahkan menyatakan siap menerima langsung keluhan pengusaha yang mengalami kendala bisnis.
"Anda dapat langsung mengajukan keluhan kepada saya melalui duta besar, perwakilan, atau apa pun yang bersedia anda gunakan. Saya bersedia menerima keluhan," ujar Prabowo.

Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan 13 pimpinan perusahaan super besar Jepang di Tokyo, Jepang, Selasa (31/3/2026). ANTARA/Instagram/@sekretariat.kabinet
Saat ini Satgas Debottlenecking sedang menangani hambatan investasi proyek LNG Blok Masela. Salah satu investasi hulu migas terbesar yang dioperatori INPEX Corporation melalui anak usahanya INPEX Masela Ltd.
Ketika memimpin sidang Debottlenecking pada 24 Februari 2026, Menkeu Purbaya menegaskan Pemerintah berkomitmen menindaklanjuti aduan melalui kanal Debottlenecking secara cepat, terkoordinasi, transparan, dan akuntabel.
"Sidang ini bukan hanya untuk menyelesaikan hambatan bagi para pelapor, namun lebih dari itu, memberikan kepercayaan dan sentimen positif bagi dunia usaha demi memperkuat iklim usaha yang sehat,” ujar Purbaya.