Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang membentangkan spanduk penolakan terhadap aktivitas pertambangan di area tambang kaki Gunung Slamet. ANTARA/Sumarwoto
Warga Sumbang Banyumas Tolak Aktivitas Tambang di Kaki Gunung Slamet
Silvana Febiari • 11 January 2026 18:25
Banyumas: Sekitar 100 warga Kecamatan Sumbang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang menolak aktivitas pertambangan di kaki Gunung Slamet, wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mereka menilai kegiatan tambang tersebut berpotensi merusak lingkungan.
Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang Eka Wisnu mengatakan penolakan tersebut merupakan bentuk solidaritas warga Sumbang terhadap masyarakat Desa Gandatapa. Mereka merasakan langsung dampak aktivitas tambang.
“Kita sifatnya bersolidaritas dengan warga Gandatapa pada khususnya untuk memasang spanduk yang pada intinya adalah menolak tambang, karena dampaknya sangat dirasakan, apalagi untuk generasi kita ke depan. Anak cucu kita semua bisa diwarisi bencana,” kata Eka Wisnu, dikutip dari Antara, Minggu, 11 Januari 2026.
Penolakan itu dilakukan dengan mendatangi area tambang di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus, Kecamatan Sumbang untuk menggelar aksi damai. Aksi tersebut tidak diisi dengan orasi, melainkan pengecekan kondisi lahan yang rusak akibat penambangan pasir hitam dan diakhiri dengan pemasangan spanduk penolakan di pagar dan pintu masuk area tambang.
Menurut Eka, dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat adalah kerusakan jalan dalam waktu singkat. Padahal, jalan tersebut baru diperbaiki, namun kembali rusak di beberapa titik akibat lalu lintas kendaraan berat dari kawasan tambang.
“Jalan-jalan cepat rusak, dan sementara jalan rusak itu tidak pernah dari pihak tambang sendiri yang menyentuh untuk perbaikan, semua hanya menunggu anggaran dari pemerintah. Ini baru beberapa bulan sudah ada yang rusak,” ungkapnya.
Selain infrastruktur, kata dia, penurunan debit air menjadi keluhan serius warga karena berpengaruh terhadap kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Kondisi tersebut dinilai semakin memburuk jika aktivitas penambangan terus berlangsung tanpa pengawasan dan evaluasi yang ketat.

Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang membentangkan spanduk penolakan terhadap aktivitas pertambangan di area tambang kaki Gunung Slamet. ANTARA/Sumarwoto
Eka menungkapkan bahwa di depan area tambang telah terpasang tanda peringatan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) yang menandakan kawasan ini sedang diawasi Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup. Namun, aktivitas pertambangan tetap berjalan seperti biasa.
“Pengawasan dari KLH ada, tapi aktivitas penambangan tetap berjalan seperti biasa. Kita ini bukan alergi aturan, tapi yang kita pertimbangkan justru efek dan dampak jangka panjangnya,” tegas Eka.
Eka mengatakan harapan utama warga yang tergabung dalam aliansi tersebut adalah penutupan total aktivitas tambang di wilayah tersebut. Sebab, penutupan sementara seperti yang pernah terjadi di lokasi lain belum cukup untuk menjawab keresahan masyarakat.
“Harapan dari warga, tambang ini ditutup total. Sampai sekarang belum ada tindakan penutupan, masih dalam tahap-tahap berikut dan aktivitas masih jalan,” tandasnya.