Ilustrasi: Satgas Darat berjibaku memadamkan api di lahan gambut di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Pengayuan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa, 25 Agustus 2026. ANTARA/Tumpal Andani Aritonang
Kasus ISPA di Kalsel Meningkat di Tengah Karhutla
Silvana Febiari • 27 August 2026 06:26
Banjarmasin: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Selatan mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 36.196 kasus pada minggu ke-28 hingga ke-32 tahun 2026. Jumlah tersebut meningkat di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Kalimantan Selatan (Kalsel) Diauddin mengatakan laporan kasus ISPA berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) hingga 22 Agustus 2026 menunjukkan tren peningkatan setiap pekan. Kasus ISPA tercatat 5.319 kasus pada minggu ke-28, 6.460 kasus pada minggu ke-29, 7.617 kasus pada minggu ke-30, 8.342 kasus pada minggu ke-31, dan 8.458 kasus pada minggu ke-32.
“Total laporan selama periode minggu ke-28 sampai minggu ke-32 mencapai 36.196 kasus,” ucap Diauddin, dilansir dari Antara, Kamis, 27 Agustus 2026.
Laporan pada minggu ke-32 menjadi angka tertinggi selama lima pekan tersebut. Namun, kenaikan dari minggu ke-31 ke minggu ke-32 hanya 116 kasus sehingga relatif lebih kecil dibandingkan peningkatan pada minggu-minggu sebelumnya dan menunjukkan laju kenaikan mulai melambat.
“Kita melihat laju peningkatan mulai melambat. Tetapi ini bukan berarti kewaspadaan diturunkan. Pemantauan dan surveilans tetap kami lakukan secara berkelanjutan bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota,” katanya.
Pada minggu ke-32, Dinkes Kalsel mencatat laporan kasus ISPA terbanyak berasal dari Kota Banjarmasin sebanyak 1.603 kasus. Disusul Kota Banjarbaru 1.142 kasus, Kabupaten Banjar 1.135 kasus, Kabupaten Tanah Laut 751 kasus, dan Kabupaten Kotabaru 538 kasus.
Tiga daerah teratas menyumbang sekitar 45,9 persen dari total laporan pada pekan tersebut.

Warga Kompleks Aeropolis 1 Banjarbaru, Saleh, menggunakan masker di tengah kepungan kabut asap di kawasan Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu, 22 Agustus 2026. ANTARA/Tumpal Andani Aritonang
Dinkes Kalsel juga terus memantau perkembangan kasus ISPA di sejumlah daerah lainnya. Beberapa di antaranya Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, Tapin, dan Hulu Sungai Tengah, guna mendapatkan gambaran kondisi ISPA di seluruh kabupaten/kota.
Diauddin menegaskan angka tersebut merupakan kasus yang dilaporkan melalui SKDR dan tidak bisa langsung digunakan untuk membandingkan tingkat risiko antarwilayah. Jumlah penduduk, kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta kelengkapan dan ketepatan pelaporan berbeda di setiap daerah.
“Jumlah laporan harus dilihat dengan konteks masing-masing daerah. Jumlah penduduk, kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta kelengkapan dan ketepatan pelaporan bisa berbeda antarwilayah,” tuturnya.
Diauddin menegaskan peningkatan kasus ISPA tidak serta-merta disebabkan karhutla. Penurunan kualitas udara juga belum tentu menjadi penyebabnya.
“Dinas Kesehatan masih mencermati keterkaitan data kesehatan dengan kondisi kualitas udara, cuaca, dan berbagai faktor lainnya. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan satu penyebab, tetapi harus berdasarkan data dan perkembangan di lapangan,” ujar Diauddin.