Perbedaan Pandangan Harus Diselesaikan dengan Dialog

Ilustrasi. Foto: Medcom.id.

Perbedaan Pandangan Harus Diselesaikan dengan Dialog

Anggi Tondi Martaon • 9 September 2026 22:47

Jakarta: Perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan dialog. Hal itu dinilai cara terbaik untuk menemukan titik temu yang dapat diterima seluruh pihak.

"Forum tersebut diharapkan mampu mempertemukan berbagai pandangan secara proporsional, mengklarifikasi persoalan yang ada, serta mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama," kata Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) periode 2024–2026, Susana Florika Marianti Kandaimu, melalui keterangan tertulis, Rabu, 9 September 2026.

Hal itu disampaikan Susana merespons dinamika yang berkembang pasca Kongres PMKRI di Ruteng, khususnya dengan munculnya dua pihak yang menyatakan diri sebagai mandataris. Dia mendorong para senior PMKRI untuk memfasilitasi kedua belah pihak.
 
"Untuk itu, saya mendorong Senior PMKRI, Alumni PMKRI, dan Gereja Katolik untuk dapat memfasilitasi forum bersama sebagai ruang komunikasi dan penyelesaian," ungkap Susana.

Selain itu, Susana menegaskan tidak mengambil posisi pada salah satu pihak yang saat ini berhadapan. Sikap tersebut diambil sebagai upaya menjaga jarak dari dinamika yang berpotensi menimbulkan polarisasi lebih jauh di antara kader. 

"Karena itu, saya menyatakan tidak akan menghadiri proses pelantikan dari kedua pihak sampai terdapat ruang penyelesaian yang memungkinkan persoalan ini dibicarakan secara bersama," sebut Susana.

Susana juga menhimbau kepada seluruh kader PMKRI tetap menjaga ketenangan, persaudaraan, dan komunikasi. Perbedaan yang ada hendaknya tidak menghilangkan semangat kebersamaan sebagai satu Perhimpunan.
 
Ketua Presidium PP PMKRI periode 2024–2026, Susana Florika Marianti Kandaimu. Foto: Istimewa.

“Kita boleh berbeda dalam pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan persaudaraan," ujar Susana.

Susana menegaskan PMKRI adalah rumah bersama. oleh karena itu, setiap persoalan yang dihadapi hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat organisasi.

"Bukan melemahkan perhimpunan," kata Susana.

(Anggi Tondi)