Dolar AS. Foto: Freepik.
Ketegangan AS-Iran Angkat Dolar AS ke Level Tertinggi Minggu Ini
Husen Miftahudin • 8 July 2026 08:25
Singapura: Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level tertinggi dalam sepekan terhadap mayoritas mata uang utama pada awal perdagangan Asia, Rabu. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran, yang sekaligus mendorong kenaikan harga minyak.
Mengutip Investing.com, Rabu, 8 Juli 2026, indeks dolar yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di level 101,18. Posisi tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2 Juli.
Permintaan terhadap aset safe haven menguat setelah AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada Selasa. Pemerintah AS juga mencabut izin yang memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional menyusul serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz.
Analis Westpac menilai meningkatnya ketegangan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas kesepakatan damai yang sebelumnya telah dicapai.
"Kekhawatiran atas prospek inflasi menjadi fokus utama, yang menyebabkan imbal hasil obligasi melonjak lebih tinggi di seluruh dunia," tulis analis Westpac dalam laporan risetnya.
| Baca juga: Dolar AS Bergerak Datar karena Minim Pendorong |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Harga minyak lanjutkan reli
Sejalan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak mentah Brent naik 2,6 persen menjadi USD76,12 per barel pada awal perdagangan Asia. Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga minyak untuk hari kedua berturut-turut.
Di pasar valuta asing, dolar Selandia Baru menguat 0,1 persen menjadi USD0,5681 menjelang keputusan Bank Sentral Selandia Baru yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Sementara itu, terhadap yen Jepang, dolar AS naik 0,1 persen menjadi 162,28 yen.
Anggota Dewan Bank of Japan (BOJ) Toichiro Asada sebelumnya menyatakan masih membutuhkan bukti inflasi yang didorong oleh permintaan sebelum mendukung kenaikan suku bunga lanjutan.
Euro turun 0,1 persen ke level USD1,1405, sedangkan poundsterling Inggris melemah 0,1 persen menjadi USD1,3353. Di sisi lain, dolar Australia relatif stabil di posisi USD0,6926.