Deretan rudal hipersonik milik Iran siap ancam Amerika Serikat dan Israel. Foto: Anadolu
Iran Perluas Risiko Ancaman Serang dengan Rudal Jarak Jauh
Fajar Nugraha • 23 March 2026 07:30
Teheran: Amerika Serikat (AS) dan Israel mengatakan, mereka telah secara serius menurunkan kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya dengan serangan udara intensif selama tiga minggu.
Namun Iran menembakkan rudal balistik jarak jauh pertamanya yang diketahui dengan jangkauan 4.000 km pada hari Jumat ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Samudra Hindia, memperluas risiko serangan di luar Timur Tengah.
Serangan Iran juga mendarat di dekat reaktor nuklir rahasia Israel sekitar 13 km tenggara kota Dimona.
Perang ini terjadi bersamaan dengan konfrontasi di front terpisah antara Israel dan Hizbullah Lebanon, yang didukung oleh Iran, dengan Israel mengatakan pada Minggu bahwa pasukannya telah menyerbu sejumlah situs kelompok bersenjata tersebut di Lebanon selatan.
Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan kepada wartawan bahwa Israel terus menyerang Iran tanpa henti dan memperkirakan "pertempuran selama beberapa minggu lagi melawan Iran dan Hizbullah".
Hizbullah mengatakan, telah menyerang beberapa daerah perbatasan di Israel utara. Layanan darurat Israel mengatakan satu orang tewas di sebuah kibbutz dekat perbatasan. Israel kemudian mengatakan sedang memeriksa apakah kematian tersebut disebabkan oleh tembakan Israel.
Hizbullah telah menembakkan ratusan roket ke Israel sejak memasuki perang regional pada 2 Maret, memicu serangan Israel yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Lebanon.
Israel mengatakan telah menginstruksikan militer untuk mempercepat penghancuran rumah-rumah warga Lebanon di "desa-desa garis depan" untuk mengakhiri ancaman terhadap warga Israel, dan untuk menghancurkan semua jembatan di atas Sungai Litani Lebanon yang menurut mereka digunakan untuk "aktivitas teroris".
Paus Leo menyerukan diakhirinya konflik tersebut. "Kematian dan penderitaan yang disebabkan oleh perang ini merupakan skandal bagi seluruh umat manusia," kata Paus Leo.
Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan pekan lalu menemukan 59 persen warga Amerika tidak setuju dengan serangan AS terhadap Iran, sementara 37 persen menyetujuinya. Perang tersebut telah menjadi beban politik besar bagi Trump menjelang pemilihan Kongres pada bulan November.