Kegiatan Parent Teacher Association (PTA) di Selasar Penghubung Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Foto: Dokumentasi Sukma Bangsa Pidie
SMP Sukma Bangsa Pidie Gelar Tips Parenting Hadapi Anak di Era Digital
Fajri Fatmawati • 10 August 2026 08:16
Pidie: Menjadi orang tua di era digital kini menuntut lebih dari sekadar memastikan anak mendapat nilai akademis baik. Derasnya informasi, pengaruh media sosial, perubahan pola pergaulan, dan isu kesehatan mental membuat peran orang tua semakin krusial.
Mereka diharapkan menjadi tempat aman bagi anak untuk curhat, mencari pertolongan, dan menemukan arah hidup. Pesan ini mengemuka dalam kegiatan Parent Teacher Association (PTA) SMP Sukma Bangsa Pidie bertajuk "Orang Tua Hebat, Remaja Bermartabat: Kolaborasi Keluarga dan Sekolah dalam Mendampingi Remaja Menghadapi Tantangan Masa Kini". Acara digelar di Selasar Penghubung Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Psikolog M Haikal dalam paparannya mengingatkan bahwa masa remaja adalah fase kunci pembentukan identitas dan karakter. Di usia ini, anak mulai mencari jati diri, merumuskan nilai hidup, dan bereksplorasi.
Haikal menekankan, tantangan pengasuhan kini kian rumit karena remaja hidup di dua dunia: nyata dan digital. Informasi cepat, tekanan gaya hidup, tuntutan penerimaan sosial, dan pengaruh media sosial sangat memengaruhi cara remaja memandang dirinya.
"Orang tua perlu memahami bahwa pola pengasuhan yang dulu mungkin berhasil belum tentu sesuai dengan kondisi remaja saat ini. Orang tua perlu belajar, mendengar, dan beradaptasi," kata M Haikal.
Ia menjelaskan, otak remaja, terutama bagian pengendalian emosi dan pengambilan keputusan, masih berkembang. Karena itu, mereka lebih mudah terpengaruh lingkungan dan menunjukkan perilaku beragam.
Haikal menekankan bahwa respons orang tua terhadap perilaku anak lebih penting daripada perilaku itu sendiri. Ia mengenalkan prinsip "Relationship Before Regulation": bangun hubungan dan rasa aman sebelum memberi aturan atau arahan.
"Memahami bukan berarti membenarkan, tetapi membantu orang tua merespons dengan tepat," ujarnya.
Cara komunikasi orang tua juga menentukan apakah anak terbuka atau justru menutup diri. Menghakimi, memberi nasihat tanpa mendengar, membandingkan dengan anak lain, mengungkit masa lalu, atau mempermalukan anak dapat merusak komunikasi.
Ia menyarankan empat langkah: mendengarkan, memvalidasi, mengklarifikasi, lalu mengarahkan. Anak butuh ruang mengungkapkan perasaan sebelum menerima solusi.
"Dengarkan dulu, nasihati kemudian. Tegas pada aturan, tetapi tetap lembut kepada anak," tutur Haikal.
Haikal juga menyoroti isu yang kerap mengkhawatirkan orang tua: pergaulan bebas, narkoba, judi daring, gawai, hubungan romantis remaja, hingga perubahan perilaku terkait kesehatan mental.
.jpg)
Surya Paloh saat menghadiri peringatan 20 tahun Yayasan Sukma Bangsa di Lhokseumawe, Aceh. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati
Ia meminta orang tua waspada jika anak menarik diri, kehilangan minat, mengalami perubahan pola tidur atau makan, menolak sekolah, meledak emosi, menggunakan zat berbahaya, atau menyakiti diri.
"Orang tua perlu hadir dan memperhatikan perubahan yang terjadi pada anak. Jika perubahan tersebut tidak kunjung membaik atau membutuhkan penanganan lebih lanjut, jangan ragu berkoordinasi dengan sekolah dan mencari bantuan profesional," jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan soal anggapan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis. Haikal menegaskan emosi tak mengenal gender. Anak laki-laki juga butuh ruang mengekspresikan perasaan.
"Melarang anak laki-laki menangis dapat membuat anak menekan emosinya. Yang perlu diajarkan adalah regulasi emosi, yaitu kemampuan mengenali dan mengelola emosi dengan baik," ucap Haikal.
Terkait perundungan dan trauma, Haikal menilai anak butuh ruang memproses pengalaman, mengenali pemicu emosi, dan belajar mempertahankan diri dengan cara tepat.
Untuk anak yang pendiam di rumah tapi aktif di sekolah, Haikal menyarankan orang tua masuk ke dunia anak lewat minat dan hobi. Tak perlu memaksa cerita, tapi pastikan orang tua selalu tersedia.
"Semoga ketika dunia terasa berat, rumah dan orang tua tetap menjadi tempat pertama yang dituju. Orang tua tidak perlu menjadi yang sempurna, tetapi perlu ada dan hadir untuk anak," tutur Haikal.
PTA ditutup dengan refleksi dan pemilihan Komite Sekolah yang dipandu Kepala SMP Sukma Bangsa Pidie, Ramadhan.
"Kegiatan ini menjadi ruang bagi sekolah dan orang tua murid untuk membangun pemahaman bersama, bahwa untuk mendampingi remaja bukan pekerjaan satu pihak, melainkan tanggung jawab yang membutuhkan kolaborasi," tutup Ramadhan.