Sempat Terpuruk, Dolar AS Bangkit dari Level Terendah Tiga Bulan

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Sempat Terpuruk, Dolar AS Bangkit dari Level Terendah Tiga Bulan

Ade Hapsari Lestarini • 21 August 2026 08:17

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat, bangkit dari level terendah dalam lebih dari tiga bulan seiring meredanya reli obligasi Treasury AS. Kenaikan harga minyak turut mendorong permintaan terhadap aset safe haven.

Mengutip Investing, Jumat, 21 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur nilai mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,1 persen ke level 98,90.

Pada sesi sebelumnya, indeks dolar AS anjlok 0,8 persen dan mencatat penurunan harian terbesar sejak akhir Juli. Indeks sempat menyentuh 98,77, level terendah sejak 14 Mei 2026.
 

Reli obligasi mereda


Pasar suku bunga dan pendapatan tetap (fixed income) masih menjadi perhatian pelaku pasar valuta asing. Departemen Keuangan AS menyatakan akan meningkatkan nilai pembelian kembali (buyback) utang pemerintah berjangka panjang menjadi sedikitnya USD4 miliar dari sebelumnya USD2 miliar.

Pengumuman tersebut memicu reli obligasi Treasury AS dan menekan imbal hasil (yield), terutama pada obligasi berjangka panjang. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun 9,1 basis poin, menjauh dari level tertinggi dalam hampir dua dekade. Sementara itu, imbal hasil acuan tenor 10 tahun turun 5,3 basis poin.

"Kemarin, para pedagang memandang pengumuman Departemen Keuangan tersebut sebagai pesan 'proaktif' yang mengisyaratkan kesiapan mereka untuk lebih memanfaatkan operasi pendanaan bersih guna mencegah kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil jangka panjang, dan/atau memberikan ruang bagi penerbitan obligasi korporasi," ujar ahli strategi valas dan suku bunga global Macquarie, Thierry Wizman.

"Kesan visual atau persepsi pasar itulah yang kemungkinan besar menyebabkan imbal hasil Treasury tenor 30 tahun anjlok sekitar 10 basis poin segera setelah pengumuman tersebut, meskipun Departemen Keuangan tidak perlu melakukan langkah drastis melalui operasi pembelian kembali berskala besar," tambah dia.

Dolar AS juga mengalami penurunan tajam setelah pengumuman tersebut. Menurut Wizman, pergerakan tersebut lebih sulit dijelaskan karena langkah Departemen Keuangan AS tidak secara langsung memengaruhi jumlah uang beredar maupun melibatkan Federal Reserve.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
 

"Namun, kita bisa memahami mengapa para pedagang menafsirkan prospek penerbitan lebih banyak surat utang jangka pendek sebagai faktor yang mempertahankan tekanan politik terhadap The Fed agar tetap menjaga suku bunga kebijakannya lebih rendah daripada yang seharusnya. Itu adalah penjelasan yang sangat masuk akal mengapa nilai tukar dolar AS melemah kemarin," ujar dia.

Reli harga obligasi kemudian berlangsung singkat. Pelaku pasar kembali menjual surat utang pemerintah AS pada Kamis, sehingga imbal hasil obligasi tenor 30 tahun naik 4,3 basis poin menjadi 5,237 persen. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kabar total utang AS telah melampaui USD40 triliun, yang menambah kekhawatiran mengenai kondisi fiskal negara tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC terdapat sejumlah faktor fundamental yang tidak diperhatikan pasar.

"Kami berupaya memberi sinyal, menurut kami, segmen pasar ini memiliki volume perdagangan yang rendah, mengingat saat ini Agustus, dan adanya banyak penerbitan surat utang korporasi yang turut memengaruhi pasar," kata Bessent.

"Kami secara rutin melakukan pembelian kembali (buyback) dan kami akan meningkatkan besaran pembelian kembali tersebut," ujarnya. Ia menambahkan nilai pembelian kembali dapat lebih besar dari USD4 miliar yang diumumkan sebelumnya.
 

Yen melemah di tengah defisit perdagangan


Beralih ke mata uang utama lainnya, yen Jepang melemah. Pasangan mata uang USD/JPY naik 0,6 persen ke level 159,15.

Melemahnya yen dan kenaikan biaya energi turut memperlebar defisit perdagangan Jepang menjadi 634,58 miliar yen atau USD3,99 miliar pada Juli, menurut data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Kamis.

Nilai impor Jepang melonjak 27,8 persen secara tahunan, terutama didorong oleh peningkatan impor minyak dan gas.

Sementara itu, euro relatif stagnan di level USD1,1674. Poundsterling menguat 0,2 persen menjadi USD1,3627.

(Ade Hapsari Lestarini)