Anak-anak korban gempa M7,7 di Kampung Natakuni, Desa Kesokoja, Kecamatan Palue, Kabipaten Sikka, NTT, menempati tenda pengungsian. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon,
Mencatat Doa Warga di Tenda, Suka Duka Korban Gempa NTT
Anggi Tondi Martaon • 26 August 2026 05:22
Palue: Matahari digantikan bulan di Pulau Palue, lokasi terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tampak bocah memakan biskuit dengan lahap di bawah lamput tenda pengungsi warga terdampak gempa NTT.
Binar mata bocah itu, seolah jadi doa yang mengalun bagi pemberi bantuan. Harapannya jelas: semoga dukungan terus diberi dan gempa susulan berhenti.
Di tenda pengungsi, adegan bocah lahap memakan kudapan terus berulang. Mereka semringah karena ada cemilan yang bisa dikonsumsi, bukan karena tak ada makanan dan mereka menggantinya dengan jajanan, namun memang bantuan terus bergulir hingga dapat memenuhi snack time anak-anak.
Pemandangan tersebut disaksikan Metrotvnews.com di Kampung Natakuni, Desa Kesokoja, Kecamatan Palue, Kabipaten Sikka, NTT. Ketakutan pascagempa seolah sirna dan tak tampak di wajah bocah-bocah itu.
Resti bahkan sempat memerinci apa saja yang didapat warga di sana. Mulai beras, air mineral, hingga kebutuhan telur dan sayuran, didapat pengungsi.
Makanannya jelas tak mewah, tapi melimpah dan mampu mengisi tiap perut pengungsi. Bahkan kebutuhan sabun hingga pampers untuk bayi dan balita juga diberi. Lagi-lagi, tercatat doa dari semringah pengungsi yang cukup makan dari bantuan logistik itu.
Bergotong Royong Menjemput Bantuan
Meski tercukupi, warga Kampung Natakuni harus berjuang mengambil bantuan tersebut. Tidak adakadabra bantuan langsung ada di depan tenda.
Mereka harus melewati jalan menanja dan berliku. Di sisi kiri atau kanan jalan terdapat jurang yang curam. Lebar akses tersebut pun hanya muat untuk dua sepeda motor. Kesalahan sedikit saat melewati jalan tersebut bisa-bisa celaka.

Ilustrasi pendistribusian bantuan gempa NTT.
Suka atau tidak, tantangan tersebut harus dilewati. Supaya kebutuhan 48 KK yang menghuni Kampung Natakuni terpenuhi selama tanggap darurat gempa.
Jika ada sepeda motor, mereka akan mengambil sendiri bantuan tersebut ke posko utama Desa Kesokoja yang berada di Kampung Edo Gang Kenari. Jika tidak, 48 KK yang tersebar di 2 RT tersebut bakal urunan menyewa ojek mengangkut semua bantuan.
"Setiap KK itu menyumbang Rp10 ribu mengangkut semua bantuan. Tidak perduli mau tiga motor atau empat motor toh, nanti uang tersebut kita kasih lalu mereka bagi-bagi," kata warga Kampung Natakuni Maria Yuliasti Poke.
Kondisi tersebut terjadi karena faktor alam. Masyarakat dan pihak kecamatan harus bergotong royong agar bantuan bisa sampai dan dimanfaatkan para korban untuk memenuhi kebutuhan.
Namun, warga Kampung Natakuni tetap berharap. Semoga kondisi tersebut dapat dilihat pihak terkait. Mereka menginginkan agar dibuat akses jalan yang lebih singkat. Sehingga, mereka bisa memiliki akses yang lebih singkat tanpa harus memutar lebih jauh melewati jalan sempit dan curam.