Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: The White House/Viory
Trump Akui Lakukan Komunikasi Intensif dengan Orang yang Tepat di Iran
Dimas Chairullah • 26 March 2026 08:18
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Washington tengah menjalin komunikasi intensif dengan perantara yang "tepat" di Iran.
Trump menyebut Teheran saat ini sangat berhasrat untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang yang tengah berkecamuk di kawasan tersebut.
Klaim tersebut disampaikan Trump dalam upacara pelantikan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS pada Selasa waktu setempat. Ia meyakini bahwa proses komunikasi di balik layar sedang menunjukkan kemajuan yang signifikan.
"Sebenarnya kami sedang berbicara dengan orang yang tepat. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan, Anda tidak tahu betapa besarnya keinginan mereka untuk itu," ujar Trump, dikutip dikutip dari Anadolu Rabu, 25 Maret 2026.
'Hadiah Besar' dan Tim Negosiasi AS
Trump mengungkapkan bahwa Iran telah mengirimkan "hadiah besar" berupa uang dalam jumlah fantastis. Meski tidak merinci detail hadiah tersebut, ia menegaskan hal itu tidak terkait dengan isu nuklir, melainkan berkaitan dengan sektor minyak dan gas. Dalam upaya penjajakan ini, sejumlah tokoh kunci di lingkaran dalam Trump dikabarkan terlibat langsung dalam pembicaraan. Mereka di antaranya adalah Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan Steve Witkoff, hingga menantu Trump, Jared Kushner.Trump juga mengklaim pihak Teheran mulai bersikap "masuk akal" dan telah setuju untuk tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Meski Teheran belum mengonfirmasi klaim sepihak ini, Iran secara historis selalu menyatakan bahwa program nuklir mereka bersifat damai.
Ancaman Terhadap Pemimpin Baru Iran
Di balik optimisme kesepakatan, Trump tetap melontarkan peringatan keras. Ia menyebut AS telah "membunuh semua pemimpin mereka" sebanyak dua kali, merujuk pada tewasnya tokoh-tokoh senior Iran dalam eskalasi militer belakangan ini.Ia memperingatkan bahwa para pemimpin baru Iran bisa dengan mudah menjadi sasaran kembali jika kesepakatan gagal.
"Saya pikir masalah ini akan segera terselesaikan," tambah Trump. Namun, ia juga mencatat adanya ketidakpuasan dari internal militernya sendiri, di mana Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine dilaporkan "kecewa" dengan kemungkinan adanya kesepakatan damai tersebut.
Dampak Perang yang Menghancurkan
Pernyataan Trump ini muncul di tengah situasi kemanusiaan yang kritis. Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari lalu, tercatat lebih dari 1.340 orang tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.Teheran pun tak tinggal diam dengan membalas melalui serangan drone dan rudal yang menyasar Israel, serta pangkalan militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. Eskalasi ini telah mengganggu pasar global, memicu krisis energi, dan menghentikan jalur penerbangan internasional.
Ketegangan di Timur Tengah semakin diperparah dengan langkah Israel yang memperluas operasi militernya ke Lebanon sejak awal Maret, termasuk melancarkan serangan darat terbatas di wilayah selatan.