IHSG Menguat Tajam, Apa Pendorong Kenaikannya?

Ilustrasi perdagangan saham di BEI. Foto: dok MI/Susanto.

IHSG Menguat Tajam, Apa Pendorong Kenaikannya?

Ade Hapsari Lestarini • 25 March 2026 16:18

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini melaju ke zona hijau. IHSG melesat di tengah pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

Berdasarkan data RTI, Rabu, 25 Maret 2026, IHSG sore meroket 195,282 poin atau setara 2,75 persen ke posisi 7.302. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 7.084. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 7.057 dan tertinggi di posisi 7.302.

Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 38,157 miliar senilai Rp25,372 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,868 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.126.216 kali.

Sore ini, tercatat sebanyak 574 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 148 saham melemah, dan 101 saham lainnya stagnan.


Ilustrasi. Foto: dok MI/Rommy Pujianto.
 

 

IHSG sempat diprediksi turun


Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim dalam kajiannya sebelumnya memperkirakan IHSG berpotensi melemah dan menguji level support di 6.800-7.000.

Melansir Antara, dari mancanegara, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menghentikan sementara perang dengan Iran karena telah terjadi negosiasi dan menunda serangan militer terhadap PLTU Iran, apabila tidak segera membuka Selat Hormuz.

Namun demikian, Iran membantah telah terjadi negosiasi meskipun mengakui telah menerima pesan dari negara lain tentang permintaan AS untuk berdialog.

Sebelumnya, Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi, teknologi informasi dan desalinasi milik AS dan Israel apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran. Sementara itu, gejolak harga minyak mentah dan gas memicu bank sentral berbagai negara siaga penuh terhadap potensi inflasi yang kembali meningkat.

Pada pekan lalu, The Fed, Europan Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), Bank of Japan (BoJ) dan Bank of Canada mempertahankan suku bunganya masing-masing tetap.

The Fed masih memproyeksikan satu kali penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada tahun ini, namun investor sudah tidak memperhitungkan hal tersebut karena kecemasan terhadap inflasi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)