Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah). Foto: Dok. Kemenhut.
Menhut: Konservasi Rwanda Jadi Inspirasi Pembangunan Berkelanjutan
Fachri Audhia Hafiez • 8 April 2026 01:48
Jakarta: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menghadiri peringatan Kwibuka ke-32, momen refleksi tahunan untuk mengenang genosida 1994 di Rwanda. Dalam acara tersebut, Raja Juli menekankan bahwa perjalanan pemulihan Rwanda bukan sekadar sejarah, melainkan bukti nyata keberhasilan pembangunan berkelanjutan melalui konservasi lingkungan.
“Perjalanan luar biasa Rwanda dalam pemulihan tidak hanya tercermin pada masyarakatnya, tetapi juga pada komitmen kuatnya terhadap pengelolaan lingkungan,” ujar Raja Juli dalam acara peringatan Kwibuka ke-32 dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 7 April 2026.
Menhut hadir mewakili Pemerintah Indonesia atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Acara ini turut dihadiri Duta Besar Rwanda Sheikh Abdul Karim Harelimana, Ketua Korps Diplomatik Afrika Macocha Moshe Tembele, serta penyintas genosida Liliane Murangwayire.
Raja Juli secara khusus menyoroti keberhasilan Rwanda dalam menjaga populasi gorila gunung di Taman Nasional Volcanoes. Kebijakan yang konsisten dan perlindungan kawasan yang kuat di sana dinilai sebagai model global dalam menjaga keanekaragaman hayati.
“Melalui kebijakan konservasi yang konsisten serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, populasi gorila meningkat signifikan dan menjadi ikon keberhasilan konservasi dunia,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberhasilan ekologis tersebut memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara melalui pariwisata berbasis konservasi. Hal ini membuktikan bahwa perlindungan hutan dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.
.jpeg)
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Foto: Dok. Kemenhut.
Raja Juli juga mengapresiasi cara Rwanda memandang hutan sebagai penyedia manfaat nyata, seperti penyerap karbon dan sumber air, bukan sekadar kawasan lindung yang kaku. Pendekatan jasa ekosistem inilah yang membuat masyarakat lokal merasa memiliki dan mendapatkan keuntungan ekonomi.
“Dengan pendekatan ini, konservasi menjadi relevan secara ekologis sekaligus bernilai secara ekonomi. Taman nasional tidak lagi dipandang sebagai pembatas ruang hidup, melainkan sebagai sumber kesejahteraan bersama,” ucap Raja Juli.