2 Dekade Sukma Bangsa, Surya Paloh Tegaskan Pendidikan Warisan Kemanusiaan

Pendiri Yayasan Sukma Bangsa Surya Paloh saat menghadiri peringatan 20 tahun Yayasan Sukma Bangsa di Lhokseumawe, Aceh. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati

2 Dekade Sukma Bangsa, Surya Paloh Tegaskan Pendidikan Warisan Kemanusiaan

Fajri Fatmawati • 23 July 2026 14:35

Lhokseumawe: Pendiri Yayasan Sukma Bangsa, Surya Paloh, menegaskan bahwa pendirian Sekolah Sukma Bangsa merupakan bagian dari ikhtiar memulihkan Aceh pascatsunami 2004 melalui jalur pendidikan. Menurutnya, sekolah tersebut dibangun sebagai proyek kemanusiaan yang tidak berorientasi pada keuntungan, melainkan untuk mencetak generasi masa depan Aceh.

Dalam peringatan 20 tahun Yayasan Sukma Bangsa di Lhokseumawe, Surya mengenang bagaimana Metro TV bersama Media Indonesia membuka posko bantuan bertajuk "Indonesia Menangis" untuk menggalang solidaritas masyarakat bagi para korban tsunami Aceh.

Ia mengatakan seluruh jaringan yang dimiliki saat itu digerakkan untuk mengumpulkan bantuan kemanusiaan. Menurut Surya, pengelolaan dana dilakukan secara transparan dengan menjaga amanah masyarakat agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

"Kami menggerakkan seluruh networking yang ada. Kami ingin membuka dompet kemanusiaan sekaligus menjaga amanah masyarakat yang berpartisipasi agar tidak ada fitnah nantinya," ujar Surya, Kamis, 23 Juli 2026.
 


Surya menjelaskan seluruh sumbangan masyarakat diaudit secara ketat dengan melibatkan lembaga auditor internasional. Audit dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap dana yang diterima dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Dari hasil penggalangan dana tersebut, kata Surya, muncul gagasan agar sebagian besar bantuan tidak hanya digunakan untuk penanganan darurat, tetapi juga untuk membangun kembali masa depan Aceh melalui sektor pendidikan. Ia mengingatkan bahwa bencana tsunami telah merenggut hampir 260 ribu jiwa, termasuk sekitar 5.000 tenaga pendidik.


Pendidikan Fondasi Kemajuan Bangsa

Menurutnya, kehilangan ribuan guru menjadi tantangan besar bagi Aceh. Karena itu, ia meyakini pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan sebuah bangsa sehingga Yayasan Sukma Bangsa memutuskan membangun sekolah yang dapat menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat.

"Bangsa yang ingin besar dan maju adalah bangsa yang mengedepankan nilai-nilai pendidikan. Karena itulah kami membangun Sekolah Sukma Bangsa sebagai amal jariyah, bukan sekolah komersial," katanya.

Surya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus, guru, dan pihak yang selama dua dekade mendedikasikan diri untuk mengembangkan Sekolah Sukma Bangsa. Ia menyebut keberadaan sekolah tersebut sebagai proyek kemanusiaan yang terus berupaya memberikan akses pendidikan kepada anak-anak yang membutuhkan.

"Sungguh ini adalah proyek kemanusiaan. Semakin bisa banyak anak asing yang kita bisa tampung dan kita bantu, sekecil apapun itu kita ikhlaskan, ada satu misi kemanusiaan yang kita bisa lakukan. Saya sendiri harus bersyukur sekolah ini bisa mampu bertahan 20 tahun," jelas Surya.

Ia menambahkan, meski berstatus sekolah nonkomersial, Sukma Bangsa mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan melalui dukungan berbagai pihak. Saat ini sekolah telah menjalin kerja sama dengan Cambridge di Inggris dan para siswanya berhasil meraih prestasi pada berbagai kompetisi internasional, termasuk di China.

(Whisnu M)