Ini 5 Penyebab Integrasi Keuangan Syariah dan Industri Halal Masih Terhambat

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Ini 5 Penyebab Integrasi Keuangan Syariah dan Industri Halal Masih Terhambat

Eko Nordiansyah • 10 February 2026 11:03

Jakarta: Meskipun Indonesia menyandang status sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan memiliki potensi industri halal yang masif, integrasi antara sektor keuangan syariah dan sektor halal dinilai masih belum optimal. Hingga saat ini, pembiayaan syariah masih menghadapi tantangan besar terutama dalam menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan industri halal nasional.

Lantas, apa faktor yang menjadi penyebab pembiayaan syariah belum optimal dalam mendorong industri halal? Mengutip dari berbagai sumber, berikut penjelasannya:

1. Bank syariah masih didominasi sektor konsumtif

Pembiayaan perbankan syariah hingga kini dinilai belum optimal karena masih didominasi oleh sektor konsumtif, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga kendaraan bermotor. Hal tersebut menyebabkan, penyaluran modal ke sektor produktif, seperti manufaktur makanan, kosmetik, dan farmasi halal masih tergolong rendah.

2. Ekosistem yang terfragmentasi

Ekosistem yang terfragmentasi merujuk pada kondisi dimana lembaga keuangan syariah dan pelaku industri halal beroperasi sendiri-sendiri tanpa integrasi yang kuat. Tanpa integrasi, dana dari industri halal seperti produsen makanan halal seringkali mengalir ke bank konvensional. Sebaliknya, pembiayaan untuk industri halal tidak datang dari lembaga keuangan syariah.

Fragmentasi ini, menyebabkan aliran dana syariah tidak berputar secara tertutup di dalam ekosistem halal, sehingga efisiensi biaya dan dampak ekonominya menjadi terbatas.  

3. Tingginya biaya dan rumitnya sertifikasi

Mahalnya biaya sertifikasi halal serta kerumitan prosedur birokrasi masih menjadi penghambat sejumlah pengusaha untuk mensertifikasi produk mereka. Kondisi ini menyebabkan banyak unit usaha belum tersertifikasi, yang pada akhirnya membatasi akses terhadap pembiayaan dari perbankan syariah.

4. Kurangnya inovasi produk

Sebagian besar pelaku industri halal di Indonesia adalah UMKM yang seringkali tidak memiliki aset jaminan yang memadai. Sementara itu, produk pembiayaan syariah saat ini dianggap masih kurang inovatif dan cenderung kaku, dengan persyaratan administrasi yang hampir serupa dengan bank konvensional.

Skema bagi hasil yang menjadi ruh ekonomi syariah justru belum banyak diimplementasikan secara luas karena dianggap memiliki risiko tinggi bagi perbankan.

5. Rendahnya literasi keuangan syariah

Rendahnya literasi keuangan syariah di kalangan pengusaha halal juga menjadi ganjalan. Banyak pelaku usaha yang masih menganggap proses di bank syariah lebih rumit atau bahkan lebih mahal dibandingkan bank konvensional. Di sisi lain, biaya modal bank syariah yang relatif lebih tinggi membuat margin yang ditawarkan ke industri halal menjadi kurang kompetitif.

Itu dia 5 faktor yang menjadi  penyebab pembiayaan syariah belum optimal dalam mendorong industri halal. Melalui pembenahan pada aspek inovasi produk hingga penguatan literasi, diharapkan sinergi antara kedua sektor ini dapat segera terwujud. 

Pembahasan lebih lanjut mengenai ekonomi halal dan penguatan ekosistem syariah akan diulas dalam Metro TV Sharia Economic Forum 2026. Forum ini digelar pada 12 Februari 2026 pukul 09.00 WIB dan disiarkan melalui YouTube Metro TV. (Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)