PM Israel Benjamin Netanyahu. (Anadolu Agency)
Netanyahu Sebut Kesepakatan Israel-Lebanon yang Dimediasi AS Pencapaian Historis
Willy Haryono • 28 June 2026 08:59
Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik kesepakatan kerangka trilateral yang ditandatangani Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat pada Jumat lalu.
Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan langkah historis menuju perdamaian yang sekaligus memberikan pukulan bagi Iran dan kelompok Hizbullah.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi Israel pada Sabtu, Netanyahu mengatakan kesepakatan yang dimediasi AS itu merupakan hasil dari perundingan langsung antara Israel dan Lebanon.
"Kemarin kami mencapai kesepakatan bersejarah bagi Negara Israel setelah perundingan langsung antara Israel dan Lebanon. Ini merupakan pukulan bagi Iran dan Hizbullah," ujar Netanyahu, seperti dikutip dari Euronews, Minggu, 28 Juni 2026.
Kesepakatan tersebut dicapai setelah lima putaran perundingan di Washington. Dokumen itu memuat rencana uji coba penempatan Angkatan Bersenjata Lebanon di dua wilayah yang saat ini masih dikuasai Israel, serta proses pelucutan senjata Hizbullah.
Dalam naskah kesepakatan disebutkan bahwa Israel dan Lebanon menyatakan niat untuk mengakhiri konflik secara permanen, mengatasi akar penyebabnya, serta mengakhiri status perang di antara kedua negara.
Kesepakatan itu juga mengatur proses pemulihan kedaulatan penuh Lebanon melalui pengerahan Angkatan Bersenjata Lebanon ke seluruh wilayah negara tersebut setelah pelucutan senjata Hizbullah dapat diverifikasi.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut kesepakatan tersebut sebagai "langkah pertama" menuju pemulihan kedaulatan negaranya.
Ben Gvir dan Hizbullah Menolak
Di sisi lain, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menolak kesepakatan tersebut. Menurutnya, pemerintah Lebanon tidak dapat dipercaya untuk melucuti senjata Hizbullah.Melalui akun Telegram, Ben Gvir menyebut perjanjian itu sebagai sebuah kesalahan besar.
"Kesepakatan dengan Lebanon adalah kesalahan besar. Memang untuk saat ini kita tetap berada di sebagian besar wilayah, tetapi negara Lebanon tidak akan melucuti senjata Hizbullah," tulisnya.
Ia juga menegaskan bahwa hanya militer Israel yang mampu menghancurkan Hizbullah.
Penolakan juga datang dari Hizbullah. Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut menyebut kesepakatan di Washington sebagai bentuk penghinaan terhadap Lebanon dan menyatakan perjanjian itu tidak memiliki kekuatan hukum.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan pemerintah Lebanon telah melakukan kesalahan besar dengan menyetujui kerangka perjanjian tersebut.
Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas sejak 2 Maret setelah Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel. Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran dan operasi darat di Lebanon selatan yang menghancurkan ribuan bangunan dan hingga kini masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah.
Baca juga: Lebanon, Israel, dan AS Teken Kerangka Kesepakatan Trilateral Menuju Perdamaian