Kerukunan antarumat beragama. Foto: Ilustrasi Media Indonesia.
Pemuda Lintas Iman di Makassar Serukan Hentikan Aksi Kenakalan Remaja
Whisnu Mardiansyah • 7 March 2026 21:32
Makassar: Maraknya permainan tembak-tembakan menggunakan senjata mainan jenis omega yang dilakukan sejumlah kelompok remaja di Kota Makassar selama bulan Ramadan menjadi perhatian serius. Sejumlah organisasi kepemudaan lintas iman di Sulawesi Selatan menyerukan fenomena ini mesti dihentikan.
Aktivitas yang kerap dilakukan pada malam hari hingga menjelang sahur ini dinilai berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat. Serta mencederai makna bulan suci yang seharusnya diisi dengan kegiatan positif. Sejumlah tokoh pemuda dari berbagai organisasi lintas iman di Sulawesi Selatan menyampaikan keprihatinan. Mereka mendorong pendekatan edukatif dan kolaboratif untuk mengatasi fenomena tersebut.
Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Sulawesi Selatan, Albert Palangda, menilai tren “perang omega” merupakan gejala sosial yang perlu mendapat perhatian serius. Menurut Albert, fenomena tersebut menunjukkan perlunya penguatan ruang aktivitas positif bagi anak muda, khususnya pada malam Ramadan.
“Bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan. Jika diisi dengan aktivitas yang berpotensi memicu konflik di ruang publik, maka ini menjadi alarm bagi kita semua untuk segera mengambil langkah edukatif,” kata Albert dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 7 Maret 2026.
Senada dengan itu, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Sulawesi Selatan, Candra Guna Laksana, menilai bahwa fenomena ini perlu ditangani melalui pendekatan sosial dan budaya. Kata dia, Remaja membutuhkan ruang berekspresi. Tantangannya adalah bagaimana diarahkan energi mereka ke kegiatan yang lebih konstruktif, seperti olahraga, seni, atau kegiatan sosial yang membangun solidaritas.
Ketua Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia Sulawesi Selatan, Alfon Romio, menyoroti potensi risiko keselamatan yang muncul dari aktivitas tersebut. “Ketika permainan dilakukan di jalan raya dan melibatkan konvoi kendaraan, tentu ada potensi kecelakaan maupun konflik antar kelompok. Ini perlu menjadi perhatian bersama agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan, Muh Ridho Yusuf, menekankan Ramadan seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat pembinaan generasi muda.
“Ramadan adalah bulan pendidikan moral dan spiritual. Kegiatan anak muda seharusnya diarahkan pada aktivitas yang membawa manfaat, seperti pengajian, olahraga malam, atau kegiatan sosial kemasyarakatan,” katanya.

Kerukunan antarumat beragama. Foto: Ilustrasi Media Indonesia.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Heriwawan. Ia menilai fenomena tersebut menjadi pengingat pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam membimbing generasi muda.
“Pengawasan orang tua dan lingkungan sangat penting, terutama pada malam hari. Anak-anak perlu diarahkan agar memanfaatkan waktu Ramadan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat,” ujarnya.
Ketua Pemuda Katolik Sulawesi Selatan, Erika Tansil, menilai fenomena ini harus menjadi momentum kolaborasi lintas organisasi pemuda dan komunitas masyarakat. Kata dia, anak muda memiliki energi besar. Jika tidak diarahkan dengan baik, energi itu bisa muncul dalam bentuk aktivitas yang kurang produktif. Dari itu, perlu bersama-sama menciptakan ruang kreativitas dan kegiatan positif bagi generasi muda.
"Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah keberagaman," katanya.
Para tokoh pemuda tersebut sepakat bahwa fenomena “perang omega” tidak bisa diselesaikan hanya melalui penegakan hukum semata. Dibutuhkan pendekatan komprehensif yang melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, sekolah, keluarga, serta komunitas masyarakat. Dengan pendekatan edukasi, kegiatan alternatif bagi generasi muda, serta pengawasan lingkungan yang lebih kuat, diharapkan fenomena tersebut dapat ditekan. Sehingga suasana Ramadan di Sulsel khususnya Makassar tetap kondusif, aman, dan penuh nilai kebersamaan.