Profil Indonesia Air Transport, Pemilik Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Bulusaraung

Pesawat PT Indonesia Air Transport (IAT). Foto: pinterpoin.com

Profil Indonesia Air Transport, Pemilik Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Bulusaraung

Husen Miftahudin • 20 January 2026 22:41

Jakarta: Operasi pencarian dan evakuasi (SAR) pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, memasuki hari keempat. Pesawat tersebut merupakan armada yang dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport (IAT), perusahaan penerbangan yang telah berpengalaman lebih dari lima dekade di industri jasa penerbangan khusus.

Dilansir dari laman resminya, PT Indonesia Air Transport didirikan pada 1968 dan pertama kali tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia pada 2006. Perusahaan ini merupakan anak usaha dari PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA).

Sebagai pemegang izin operator reguler, IAT memiliki spesialisasi dalam layanan penerbangan sewa-waktu (carter) untuk sektor industri, terutama pertambangan dan minyak dan gas (migas), di seluruh wilayah Indonesia. Layanan ini mencakup operasi pesawat bersayap tetap dan helikopter.
 
Baca juga: Menelusuri Kecelakaan Pesawat ATR Paling Signifikan di Dunia

Perubahan bisnis dan akuisisi


Pada Desember 2021, IAT mengambil langkah strategis dengan memperoleh Sertifikat Operator Pesawat Udara dari Kementerian Perhubungan. Izin ini menjadi fondasi bagi induk perusahaannya, IATA, untuk mengubah model bisnis utama menjadi sebuah perusahaan investasi.

Strategi ini meliputi rencana pengalihan aset dan akuisisi besar, terutama terhadap PT Bhakti Coal Resources (BCR), sebuah perusahaan pertambangan batu bara dengan sembilan izin usaha di Sumatra Selatan. Akuisisi senilai USD 140 juta ini bertujuan mendiversifikasi portofolio IATA ke sektor pertambangan, infrastruktur, dan transportasi udara.


(Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport. ANTARA/HO-indonesia-air.com/pri)
 

Operasi SAR terkini di Bulusaraung


Tim SAR gabungan kini memfokuskan upaya evakuasi dan penyisiran di sembilan titik utama yang telah dipetakan berdasarkan koordinat sebaran reruntuhan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung.

Medan operasi dinilai sangat ekstrem karena lokasi jatuhnya pesawat berada di tebing curam dengan kedalaman ratusan meter. Kondisi ini membuat proses evakuasi berjalan lambat dan penuh risiko.

"Kami fokus pada area temuan awal, dari lokasi korban pertama, serpihan badan pesawat, hingga mesin dan sayap di sekitar air terjun," jelas Koordinator Misi SAR (SMC) Muhammad Arif Anwar, Selasa, 20 Januari 2026. Salah satu titik yang mendapat perhatian khusus adalah lokasi ekor pesawat yang terperosok di kedalaman sekitar 200 meter.

Operasi SAR yang dipimpin Basarnas melibatkan unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Tim akan terus melakukan evaluasi untuk mempercepat proses evakuasi dan penyelidikan lanjutan penyebab kecelakaan. (Muhammad Adyatma Damardjati)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)