Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Metro TV/Alvi.
Pramono Sebut Peringatan Dini Longsor Sebagai Pengingat agar Warga Waspada
Nattasya Amani Vrazeti • 15 September 2026 18:05
Jakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta diinstruksikan untuk menerbitkan peringatan dini potensi longsor secara terbuka. Tujuannya agar masyarakat dapat lebih waspada dan tidak terkejut.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan, langkah tersebut disampaikan Pramono sebagai upaya mitigasi dan edukasi risiko dini bagi warga yang bermukim di wilayah rawan.
“Iya, saya memang menyampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah, semua potensi ancaman itu dikomunikasikan kepada publik, kepada masyarakat, supaya masyarakat tidak terkaget-kaget,” ucap Pramono di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta pada Selasa, 15 September 2026.
“Seperti antisipasi kita ketika Gunung Krakatau atau Anak Gunung Krakatau, itu kan terjadi cepat karena memang dikomunikasikan,” tambah Pramono.
Ia berharap potensi bencana longsor tersebut tidak benar-benar terjadi di ibu kota. Namun, peringatan dini tetap wajib disampaikan dalam melindungi dan memperingatkan masyarakat.
“Sehingga dengan demikian, apa yang disampaikan kepada publik kalau saya ya, mudah-mudahan enggak terjadi. Tetapi itu bagian dari memperingatkan kepada masyarakat,” ujar Pramono.

Ilustrasi longsor. Foto: Metrotvnews.com/M. Azri Arifin.
BPBD DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gerakan tanah atau tanah longsor di sejumlah wilayah Ibu Kota. Peringatan dini ini untuk periode September 2026.
“Prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah disusun berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) antara peta zona kerentanan gerakan tanah dengan peta prakiraan curah hujan bulanan yang diperoleh dari BMKG,” tulis BPBD DKI Jakarta melalui akun Instagram resminya @bpbddkijakarta, Senin, 14 September 2026.
Penetapan peringatan tersebut merujuk pada data analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM. Hasil pemetaan mengidentifikasi sejumlah kecamatan di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur masuk dalam Zona Menengah potensi gerakan tanah.
Di wilayah Jakarta Selatan, daerah yang berpotensi terdampak meliputi Kecamatan Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan. Sementara di Jakarta Timur, potensi gerakan tanah teridentifikasi di Kecamatan Kramatjati dan Pasar Rebo.
Pada kawasan yang masuk Zona Menengah, gerakan tanah berpotensi terjadi apabila intensitas curah hujan berada di atas normal.
“Terutama mengancam daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng di kawasan tersebut mengalami gangguan,” jelas BPBD DKI.