JD Vance Desak Iran Kurangi Pengayaan Nuklir untuk Akhiri Perang

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. (Anadolu Agency)

JD Vance Desak Iran Kurangi Pengayaan Nuklir untuk Akhiri Perang

Muhammad Reyhansyah • 7 October 2026 12:43

Washington: Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan Iran harus melakukan pengurangan “bermakna” terhadap kapasitas pengayaan nuklirnya sebagai syarat untuk memenuhi tuntutan Washington dan mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters, Vance mengatakan setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup pengurangan kapasitas pengayaan nuklir, bukan sekadar jaminan bahwa Teheran akan mengurangi kemampuan tersebut di masa depan.

“Jika Anda tidak menginginkan senjata nuklir, mengapa Anda membutuhkan bahan bakar yang diperkaya hingga 60 persen? Dan jika Anda ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membuat senjata nuklir, jangan membuat bahan bakar yang diperkaya tinggi,” kata Vance, dikutip dari TRT World, Rabu, 7 Oktober 2026.

“Itu adalah persoalan ambang batas yang sangat mendasar,” lanjutnya.

Menurut Vance, Iran perlu mengambil langkah konkret untuk menunjukkan komitmennya tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Saya pikir jika mereka ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membuat senjata nuklir, mereka akan melakukan sesuatu yang bermakna terhadap kapasitas pengayaan mereka,” ujarnya.

Vance mengatakan Washington tetap terbuka terhadap kesepakatan, tetapi menginginkan konsesi nuklir yang nyata dari Iran.

“Kami tidak akan menukar kata-kata dengan tindakan,” kata Vance.

Washington Pertanyakan Teheran

Vance mengatakan Washington masih belum mengetahui secara pasti siapa yang mengambil keputusan di Teheran.

Menurutnya, Gedung Putih tengah berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Namun, Vance mempertanyakan seberapa besar kewenangan keduanya dalam struktur kekuasaan Iran.

Ketidakpastian tersebut muncul setelah serangan gabungan AS dan Israel pada awal perang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

“Salah satu hal yang kami sadari adalah tidak sepenuhnya jelas bagaimana negara mereka mengambil keputusan,” kata Vance.

Secara terpisah, Presiden AS Donald Trump mengatakan masalah “terbesar” yang dihadapi Washington adalah tidak ada yang mengetahui siapa yang menjalankan Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pada Minggu bahwa para pejabat AS mengetahui siapa mitra mereka dari Iran serta bagaimana sistem pengambilan keputusan negara tersebut bekerja.

Vance juga mengatakan dirinya telah berbicara langsung dengan sejumlah komandan di lapangan untuk mengetahui kondisi pertempuran.

Ia menepis kekhawatiran mengenai kekurangan amunisi kritis. Menurut Vance, meski pasukan Iran masih dapat menyerang kapal komersial secara berkala di Selat Hormuz, mereka sebagian besar tidak mampu menghentikan ekspor energi melalui jalur tersebut.

Perang Jadi Isu Politik AS

Perang yang menelan biaya sekitar USD3 miliar per bulan itu juga menjadi isu penting dalam kampanye politik AS.

Kenaikan harga energi membuat Trump dan Partai Republik berada dalam posisi defensif di sejumlah negara bagian yang persaingannya ketat dan akan menentukan kendali Kongres.

Vance disebut sebagai salah satu kandidat utama Partai Republik untuk menggantikan Trump di Gedung Putih. Namun, dalam wawancara tersebut, Vance mengatakan dirinya belum memutuskan apakah akan mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.

“Saya pada dasarnya orang yang suka menunda. Saya benar-benar belum banyak memikirkannya,” kata Vance.

Baca juga: Wapres AS Akui Tidak Tahu Kapan Perang Iran Akan Berakhir

(Willy Haryono)