Angin Kencang Penyebab Relawan Pemadam TNBTS Terkepung Api

Kobaran api yang muncul di Blok Bantengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin, 3 Agustus 2026. ANTARA/HO-Balai Besar TNBTS

Angin Kencang Penyebab Relawan Pemadam TNBTS Terkepung Api

Daviq Umar Al Faruq • 16 October 2026 16:21

Malang: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, menewaskan empat personel pemadam pada Kamis, 15 Oktober 2026. Peristiwa tragis itu terjadi ketika perubahan kondisi kebakaran disertai angin kencang membuat sejumlah petugas terjebak di tengah kobaran api.

Api pertama kali terdeteksi pada Selasa, 13 Oktober 2026, sekitar pukul 14.23 WIB di area ladang milik warga di Blok Pusung Dawa. Petugas gabungan bersama masyarakat setempat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan manual karena medan yang terjal dan keterbatasan akses menuju sumber air.

"Mengingat lokasi yang jauh dari sumber air dan sulit dijangkau dengan mesin penyemprot air, pemadaman dilakukan secara manual menggunakan alat gebyok," kata Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, Jumat, 16 Oktober 2026.

Upaya pemadaman tersebut sempat berhasil. Kobaran api dinyatakan padam pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 11.45 WIB. Petugas kemudian melanjutkan pemantauan hingga malam hari untuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun asap yang tersisa.
 


Namun, kondisi kembali berubah pada Kamis pagi. Sekitar pukul 09.20 WIB, petugas di Posko Karhut Cemoro Lawang kembali mendeteksi kepulan asap tebal. Personel gabungan yang terdiri atas petugas TNBTS, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta staf PT Mitra Indo Permai (MIP) segera menuju lokasi untuk melakukan penyekatan agar api tidak meluas.

Insiden terjadi sekitar pukul 13.00 WIB ketika angin kencang mendadak mengubah situasi di lokasi kebakaran. Enam personel terjebak di tengah kobaran api yang membesar, sedangkan lima petugas lainnya berhasil menyelamatkan diri karena berada di sisi yang berlawanan dengan arah perambatan api.

"Sekitar pukul 13.00 WIB, tiba-tiba angin kondisi kebakaran disertai angin kencang menyebabkan enam personel terjebak di tengah api yang menyala," ungkap Rudijanta.



Petugas gabungan saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan TNBTS. Dokumentasi/Polres Malang.


Setelah kondisi memungkinkan, tim evakuasi menemukan tiga personel meninggal dunia di lokasi kejadian. Satu korban lainnya meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di RSUD Tongas.

Sementara itu, dua personel lainnya mengalami luka bakar berat dan menjalani perawatan medis intensif di RS Dr. Soetomo, Surabaya. Pihak Balai Besar TNBTS menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban atas peristiwa tersebut.

"Balai Besar TNBTS Kementerian Kehutanan menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga para korban," tutur Rudijanta.

(Whisnu M)