Bos Kadin Dorong Pelaku Usaha Kuasai AI dan Agen Cerdas, Jangan Cuma Jadi Penonton

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.

Bos Kadin Dorong Pelaku Usaha Kuasai AI dan Agen Cerdas, Jangan Cuma Jadi Penonton

Husen Miftahudin • 15 October 2026 17:20

Jakarta: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kini mulai merambah dunia usaha dan pasar kerja global. Ia menekankan para pelaku usaha di Indonesia wajib meng-update diri dan mengikuti perkembangan zaman, serta tidak sekadar menjadi penonton atau konsumen pasif.
 
Anindya menjelaskan adaptasi AI dalam organisasi harus dimulai dari kemauan para pemimpin dan pekerja untuk memahami serta membuat agen cerdas (AI agents) secara mandiri. Agen cerdas ini berfungsi layaknya asisten pribadi baru yang dirancang untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas harian sekaligus mendongkrak produktivitas.
 
"Nah, ditambah lagi, sekarang masuk ke dunia usaha dan dunia kerja di era AI," ujar Anindya dalam forum ITC Leadership Conclave 2026 di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
 
Anindya menjelaskan proses pembuatan agen cerdas tidak dapat diserahkan begitu saja kepada pihak lain, melainkan harus dipelajari dan dipraktikkan secara mandiri oleh setiap pimpinan maupun pekerja.
 
Menurut dia, membangun agen cerdas ini diibaratkan seperti membentuk asisten pribadi baru yang perlu dilatih agar memahami pola kerja dan kebutuhan spesifik organisasi.
 
Sebab, lanjut Anindya, transformasi AI dalam sebuah perusahaan tidak akan berjalan optimal apabila para sumber daya manusia di dalamnya belum memiliki keterampilan dasar untuk membuat agen cerdas atau mengembangkan skills yang dapat direplikasi dalam operasional bisnis sehari-hari.
 
"Ternyata, kita semua mesti menggunakan laptop untuk belajar membuat agent. Tapi, mesti dianggap seperti kita membentuk, kita punya personal assistant yang baru. Itu mesti kita sendiri yang melakukannya. Nah, karena akan sulit kita mengatakan organisasi menggunakan AI kalau kita semua nggak bisa buat agent atau skills untuk melakukan replikasi," papar dia.
 

 

Jaga keseimbangan dengan kecerdasan emosional

 
Lebih lanjut, Anindya mengingatkan agar penguasaan teknologi canggih tersebut tetap diimbangi dengan kecerdasan emosional (emotional intelligence). Hal ini penting agar manusia senantiasa memegang kendali penuh dan teknologi tetap diarahkan untuk membawa manfaat nyata bagi kemanusiaan.
 
"Tapi yang kedua juga intinya intellectual, tadi artificial intelligence mesti ngerti juga yang penting itu emotional intelligence juga penting," tegas Anindya.
 
Di tengah dinamika global dan kebisingan situasi ekonomi, ia berpesan agar para pelaku bisnis senantiasa memelihara optimisme dalam menghadapi setiap tantangan krisis. "Pemainnya itu ada rahasianya cuma satu, optimis, enggak ada yang pesimis jadi pemain baru," tutur dia.
 
Selain meng-update diri dengan teknologi AI, Anindya menyoroti bahwa penguatan kapasitas UMKM merupakan prasyarat utama agar Indonesia mampu melompat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) serta mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen.
 
"Tentunya kita dukung upaya untuk menuju pertumbuhan delapan persen. Nah, ini bukan bisa atau enggak bisa. Kalau menurut saya, harus bisa," ungkap Anindya.

AI Indonesia Kembangkan Platform Kecerdasan Buatan Interaktif

(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)

 

Ajak UMKM perkuat rantai pasok domestik

 
Ia memaparkan Indonesia perlu mendongkrak PDB per kapita dari kisaran USD5.000 menuju angka USD15 ribu dengan skala populasi mencapai 285 juta jiwa. Oleh karena itu, penguatan rantai pasok domestik dan keterlibatan UMKM dalam program-program strategis nasional menjadi prioritas utama.
 
Anindya mengingatkan kembali peran vital sektor UMKM yang memiliki jumlah sekitar 65 juta unit usaha dan menyerap mayoritas tenaga kerja di Tanah Air. Ia mengajak korporasi dan perusahaan besar untuk aktif merangkul serta membina para pelaku UMKM agar dapat berkembang dan naik kelas bersama-sama.
 
"Kalau kita perusahaan besar, marilah kita fokus untuk juga mengajak teman-teman ini biar bisa lebih maju," kata Anindya. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Husen Miftahudin)