Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.
Bos Kadin: UMKM Harus Naik Kelas Biar Ekonomi Indonesia Tumbuh 8%
Husen Miftahudin • 15 October 2026 14:52
Jakarta: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menegaskan target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen merupakan sebuah keharusan yang harus diwujudkan oleh Indonesia Indonesia mampu melompat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Salah satu prasyarat utama untuk mewujudkan target ambisius tersebut adalah dengan memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa naik kelas.
"Tentunya kita dukung upaya untuk menuju pertumbuhan delapan persen. Nah, ini bukan bisa atau enggak bisa. Kalau menurut saya, harus bisa," ujar Anindya Bakrie dalam forum ITC Leadership Conclave 2026 di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
Ia memaparkan Indonesia perlu mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dari kisaran USD5.000 saat ini menuju angka USD15 ribu. Mengingat skala populasi Indonesia yang sangat besar mencapai 285 juta jiwa, pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah dan menuntut kerja keras yang jauh lebih masif dibandingkan dua dekade terakhir.
"Kita kan tahu, kita semua pimpinan usaha, menaikkan dari USD5.000 ke USD15 ribu dengan skala besar, 285 juta (jiwa) itu bukan hal yang gampang," ungkap Anindya.
Lebih lanjut, Anindya menyoroti pentingnya menyelaraskan program pemerintah dengan penguatan rantai pasok domestik, salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut dia, program tersebut memiliki fokus yang kuat pada hilirisasi pangan di tingkat lokal.
"Tapi kalau kita lihat salah satunya tuh ada riset dari lembaga ternama, consulting company mengatakan, bagus ada hilirisasi, bagus ada ketahanan pangan, ketahanan energi, tapi ujungnya UMKM harus naik kelas," lanjut dia.
Ia mencontohkan bagaimana pemenuhan kebutuhan logistik dalam skala besar seperti penyediaan 80 juta paha ayam, 80 juta telur, hingga komoditas lainnya harus dikelola dengan eksekusi yang matang oleh dunia usaha. Jika dijalankan secara tepat, program strategis tersebut diyakini mampu memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang luas bagi perekonomian kerakyatan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
"MBG itu fokusnya ke hilirisasi pangan. Bagaimana kita menciptakan 80 juta paha ayam, 80 juta telur, dan lain-lain. Itu kan esensinya. Nah, tinggal eksekusinya yang mesti dijaga supaya benar-benar terjadi, kalau dari sisi dunia usaha. Begitu juga dengan program-program yang lain," kata dia.

(UMKM. Foto: dok Metrotvnews.com)
Genjot daya saing dan sinergi korporasi dengan UMKM
Di tengah dinamika global yang kompleks, Anindya menilai upaya mendongkrak perekonomian nasional harus berpusat pada peningkatan daya saing (competitiveness) serta penciptaan iklim investasi yang nyaman di dalam negeri.
Ia mengingatkan meskipun berbagai inisiatif seperti hilirisasi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi dinilai sangat baik, esensi utamanya tetap bermuara pada keharusan agar sektor UMKM dapat naik kelas. Dengan jumlah mencapai sekitar 65 juta unit usaha atau mencakup 97 persen dari total pelaku usaha di tanah air, UMKM memegang peranan krusial dalam struktur ekonomi nasional.
Anindya juga mengenang kembali peran vital sektor UMKM tatkala Indonesia dilanda krisis moneter pada tahun 1997–1998 silam. Ketika banyak korporasi besar mengalami kejatuhan dan kebangkrutan, UMKM terbukti konsisten berdiri sebagai pilar penyangga utama kegiatan ekonomi nasional.
"Jadi perusahaan-perusahaan besar, termasuk perusahaan kami bisa dibilang technically or physically bankrupt (1997-1998). Saya ingat dulu grup kami itu pada suatu titik kepemilikan keluarga hanya 2,5 persen, semua diambil para kreditur. Tapi yang menjaga semua itu adalah UMKM," ungkap dia.
Karena itu, ia mengajak para pelaku usaha skala besar untuk turut mengambil peran aktif dalam merangkul dan membina para pelaku UMKM agar bisa berkembang lebih maju bersama. (Selsha Septifanie Gunawan)