DKI Gandeng BPS Ukur Dampak Ekonomi dari Industri Perfilman

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (dua dari kanan). Foto: Metro TV/Nattasya.

DKI Gandeng BPS Ukur Dampak Ekonomi dari Industri Perfilman

Nattasya Amani Vrazeti • 20 October 2026 14:27

Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur besaran dampak ekonomi dari 21 subsektor ekonomi kreatif di Ibu Kota. Khususnya, industri perfilman.

“Karena itu kita akan segera bekerja sama dengan BPS ya, Pak Iwan, untuk kita mengukur ekonomi kreatif ini impact ekonominya,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno usai acara Jakarta Film Summit di Park Hyatt Hotel, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Rano mengungkapkan selama ini tim pengendalian inflasi daerah lebih banyak berfokus pada pemantauan sektor pangan semata. Padahal, sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar yang perhitungannya belum pernah dilakukan secara khusus.

“Ternyata yang namanya ekonomi kreatif ini ada 21 subsektor yang mungkin secara terhitung tidak pernah dilakukan. Nah, ini momennya,” kata Rano. 

Ilustrasi. Foto: Freepik

Rano menjelaskan tingginya potensi ekonomi kreatif di Jakarta salah satunya terlihat dari pesatnya pertumbuhan jumlah penonton film Indonesia. Hingga Oktober 2026, Rano menyebut akumulasi penonton film nasional telah mencapai hampir 70 juta orang.

Bahkan pada 2025, Rano mengatakan total penonton film di Indonesia mencapai hampir 122 juta orang. Sekitar 80 persen atau hampir 85 juta di antaranya menonton film dalam negeri. 

“Nah, artinya mengindikasikan Jakarta establish sebagai kota sinema,” jelas Rano. 

Rano menyebut guna memperkuat posisi tersebut, Pemprov DKI menyelenggarakan ajang Jakarta Film Summit untuk mendiskusikan masa depan industri film, yang disusul dengan gelaran festival film Jakarta Film Week.

“Kita dikunjungi hampir 10 negara karena hampir semua negara ini punya kepentingan terhadap perkembangan film,” ujar Rano.

(Siti Yona Hukmana)