Flavio Bolsonaro (kanan) tak terima kalah dari Lula da Silva (kiri). Foto: Anadolu
Kalah Tipis dari Lula da Silva, Flavio Bolsonaro Gugat Hasil Pilpres Brasil
Muhammad Reyhansyah • 26 October 2026 12:32
Brasilia: Senator Brasil Flavio Bolsonaro menyatakan akan mengajukan permohonan pembatalan hasil putaran kedua pemilihan presiden setelah kalah tipis dari Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva, Minggu, 25 Oktober 2026.
Berbicara kepada para pendukungnya tak lama setelah Mahkamah Pemilu Tinggi Brasil (TSE) menetapkan Lula sebagai pemenang, kandidat dari Partai Liberal (PL) itu melontarkan kritik keras terhadap Mahkamah Agung Federal Brasil (STF) atas keputusan memperpanjang waktu pemungutan suara di seluruh negeri.
“Kami akan melibatkan tim hukum kami dan mengupayakan agar pemilu ini dibatalkan,” kata Bolsonaro, dikutip dari Anadolu, Senin, 26 Oktober 2026.
“Saya tidak akan menerima aturan main yang diubah secara sewenang-wenang, sekali lagi oleh orang-orang dekat Lula di Mahkamah Agung Federal,” lanjutnya.
Bolsonaro secara khusus mempersoalkan keputusan Hakim STF Cristiano Zanin yang memperpanjang waktu pemungutan suara hingga pukul 19.00 waktu Brasília. Keputusan tersebut dikeluarkan pada saat-saat terakhir setelah muncul permohonan darurat terkait blokade transportasi dan cuaca buruk.
Senator yang kalah dalam pemilihan itu juga menyoroti latar belakang Zanin, yang pernah menjadi pengacara pribadi Lula sebelum diangkat menjadi hakim agung.
TSE menetapkan Lula sebagai pemenang dengan perolehan 51,76% suara sah atau lebih dari 60 juta suara. Sementara itu, Bolsonaro meraih 48,24%.
Kemenangan tersebut mengantarkan Lula pada masa jabatan presiden keempatnya secara keseluruhan, meskipun tidak secara berturut-turut.
Pemilu kali ini mengakhiri salah satu periode kampanye paling bergejolak dalam sejarah politik Brasil modern. Pada putaran pertama 4 Oktober, Bolsonaro unggul dengan 47% suara, sedangkan Lula memperoleh 45%.
Hasil putaran kedua membalikkan posisi tersebut. Lula juga mencatat sejarah sebagai kandidat presiden pertama di Brasil yang berhasil membalikkan ketertinggalan pada putaran pertama dan memenangkan pemilu putaran kedua sejak sistem dua putaran diterapkan pada 1989.
Rencana gugatan Partai Liberal diperkirakan memicu perselisihan hukum di Brasília ketika otoritas pemilu bersiap mengesahkan hasil akhir pemilihan presiden.
Bolsonaro menegaskan penolakannya terhadap keputusan perpanjangan waktu pemungutan suara dan menyatakan akan menempuh jalur hukum untuk menggugat hasil pemilu.