BMKG Catat 17 Provinsi Alami Hari Tanpa Hujan Ekstrem

Ilustrasi kekeringan akibat musim kemarau. Foto: dok. Antara.

BMKG Catat 17 Provinsi Alami Hari Tanpa Hujan Ekstrem

Gabriella Thesa Widiari • 24 October 2026 20:06

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar zona musim di Indonesia masih didominasi musim kemarau hingga pemutakhiran data 20 Oktober 2026. Kondisi tersebut memicu fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori ekstrem panjang di 17 provinsi.

"Banyak provinsi yang mengalami tidak hujan selama lebih dari satu bulan," tulis BMKG dikutip dari Instargam @infobmkg, Sabtu, 24 Oktober 2026. 

Menurut BMKG, wilayah Jawa Tengah menjadi daerah dengan durasi HTH ekstrem terpanjang yang mencapai 172 hari. Daerah Istimewa Yogyakarta menyusul di urutan kedua selama 171 hari, kemudian Jawa Timur selama 169 hari, serta Nusa Tenggara Timur selama 158 hari.

Selain itu, durasi HTH ekstrem di atas empat bulan juga mencakup Nusa Tenggara Barat selama 155 hari, Bali selama 153 hari, Jawa Barat selama 150 hari, dan Sulawesi Selatan selama 142 hari. Wilayah Maluku dan Sulawesi Barat masing-masing mencatat durasi 134 hari dan 131 hari.

Wilayah lain yang mencatatkan HTH ekstrem berkisar antara 126 hingga 129 hari meliputi DKI Jakarta, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, dan Banten. BMKG mengimbau masyarakat di wilayah kering tersebut untuk menghemat penggunaan air bersih.


Ilustrasi cuaca. Foto: dok. Antara. 

Meskipun mayoritas wilayah masih terdampak kemarau, sejumlah daerah mulai memasuki musim hujan. Wilayah tersebut meliputi sebagian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, dan Kalimantan Timur.

BMKG mengimbau masyarakat yang berada di daerah terdampak kemarau ekstrem untuk bijak menggunakan air. Sedangkan untuk daerah dengan curah hujan diingatkan untuk membersihkan saluran air. 

"Bagi wilayah kering, tetap hemar air. Untuk wilayah yang sering hujan, pastikan selokan bersih agar aliran air lancar," tulis BMKG.

(Gabriella Thesa Widiari)