Marketing Director PT Sasa Inti Agus Nugraha saat gelaran Sasa Bakso Vaganza (tengah)
Bakso Vaganza 2025, Platform Strategis Penguatan Ekonomi UMKM
6 December 2024 10:28
Jakarta: Gelaran Sasa Bakso Vaganza 2025 dinilai menjadi katalisator kuat bagi pertumbuhan ekonomi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di subsektor kuliner.
Festival dua hari yang akan berlangsung pada 6-7 Desember di Sarinah, Jakarta, ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga dirancang sebagai platform strategis untuk mengatasi tantangan inflasi dan memperkuat daya saing bisnis UMKM.
Acara yang menghadirkan 25 legenda bakso dari berbagai penjuru Nusantara, seperti Bakso Mawardi (Semarang) dan Kios Atiraja (Makassar), diproyeksikan mampu menghasilkan perputaran uang yang signifikan. Selain itu, multiplier effect juga diharapkan terjadi pada pemasok bahan baku lokal.
Marketing Director PT Sasa Inti, Agus Nugraha, menjelaskan bahwa misi di balik festival ini jauh melampaui promosi kuliner.
"Misi kami memperkenalkan kekayaan kuliner bakso ke seluruh rakyat Indonesia, selain itu merupakan bentuk dukungan terhadap pertumbuhan usaha Mikro, Kecil, dan Menengah," ujar Agus.
Dengan target pengunjung yang masif dan kebijakan gratis masuk, Sasa Bakso Vaganza 2025 memberikan peluang emas bagi pedagang bakso legendaris untuk 'naik kelas'.
Para penjual mendapatkan eksposur pasar di Ibu Kota tanpa dibebani biaya venue yang memberatkan. Ini membuka potensi perluasan pasar dan branding yang dapat menarik minat investor atau reseller potensial untuk membuka cabang atau kemitraan di luar daerah asal mereka.
Lebih lanjut, dampak strategis acara ini juga merambah ke hulu pasokan. Volume penjualan yang tinggi mendorong pembelian bahan baku dalam jumlah besar, sebuah kondisi yang berpotensi menstabilkan harga komoditas utama bakso seperti daging, tepung, dan bumbu.
Dalam konteks menjaga standar kualitas dan skalabilitas bisnis UMKM, Agus Nugraha menyoroti peran strategis bahan baku domestik. Penggunaan bumbu pelengkap yang konsisten dan berkualitas tinggi, termasuk Monosodium Glutamat (MSG), dinilai vital.
"Tidak dipungkiri rasa gurih MSG yang seimbang telah membantu menjaga standar kualitas jutaan mangkok bakso selama puluhan tahun," katanya, menekankan bahwa konsistensi rasa adalah kunci untuk membangun loyalitas merek.
Agus menyebut Sasa Bakso Vaganza bukan sekadar event tunggal, tetapi menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan memberikan kepastian bagi UMKM kuliner bakso mengenai platform reguler untuk pameran produk dan pertemuan bisnis, sekaligus mendorong inovasi produk untuk daya saing jangka panjang.
Kolaborasi antara korporasi besar dan UMKM melalui sektor kuliner ini menjadi contoh konkret penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan, sembari menjaga warisan kuliner nasional.