Daftar Fenomena Astronomi Juli 2026, Buck Moon hingga Puncak Hujan Meteor

Ilustrasi Hujan Meteor.

Daftar Fenomena Astronomi Juli 2026, Buck Moon hingga Puncak Hujan Meteor

Putri Purnama Sari • 1 July 2026 13:57

Jakarta: Kabar baik bagi para pecinta astronomi. Sepanjang Juli 2026, langit malam akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi yang sayang untuk dilewatkan, mulai dari fase Bulan Baru, kemunculan Buck Moon, hingga puncak hujan meteor Southern Delta Aquariid.

Sebagian besar fenomena tersebut dapat dinikmati pada malam hari. Agar pengamatan lebih maksimal, masyarakat disarankan menggunakan teleskop atau teropong, terutama untuk melihat objek-objek langit yang berada jauh dari Bumi.

Lantas, apa saja fenomena astronomi yang akan terjadi sepanjang Juli 2026? Berikut daftarnya.

Fenomena Astronomi Juli 2026

1. Bulan Baru (14 Juli)

Fenomena Bulan Baru akan terjadi pada 14 Juli 2026. Pada fase ini, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sehingga sisi Bulan yang menghadap ke Bumi tidak mendapat cahaya Matahari. Akibatnya, sekitar 0 persen permukaan Bulan tampak dari Bumi.

Meski Bulan tidak terlihat, kondisi langit yang lebih gelap justru menjadi waktu ideal untuk mengamati berbagai objek langit jauh (deep-sky objects), seperti Gugus Hercules Besar (Messier 13) dan Nebula Cincin (Messier 57).

2. Buck Moon (28–29 Juli)

Fenomena berikutnya adalah Buck Moon, yaitu sebutan untuk Bulan purnama yang terjadi pada akhir Juli. Nama "Buck Moon" berasal dari tradisi suku asli Amerika yang mengaitkan momen ini dengan musim ketika rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk barunya.

Pada Juli 2026, Bulan akan mencapai fase purnama dengan tingkat pencahayaan 100 persen pada 29 Juli sekitar pukul 10.35 pagi. Karena terjadi pada siang hari, waktu terbaik untuk menikmati fenomena ini adalah setelah Matahari terbenam pada 28 dan 29 Juli, saat Bulan tampak terang menghiasi langit malam.
  3. Puncak Hujan Meteor Southern Delta Aquariid (30–31 Juli)

Fenomena astronomi yang menutup bulan Juli adalah puncak hujan meteor Southern Delta Aquariid yang diperkirakan terjadi pada 30–31 Juli 2026.

Mengutip dari laman NASA, sebagian besar astronom meyakini hujan meteor ini berasal dari Komet 96P/Machholz, yang mengelilingi Matahari setiap 5,3 tahun. Setiap kali melintas, komet tersebut meninggalkan jejak debu di sepanjang orbitnya.

Saat Bumi melewati jalur tersebut, partikel-partikel debu komet memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan terbakar akibat gesekan udara. Proses inilah yang menghasilkan garis-garis cahaya di langit malam yang dikenal sebagai meteor.

Agar dapat menikmati hujan meteor secara optimal, pilih lokasi yang minim polusi cahaya dan memiliki langit cerah. Pengamatan juga tidak memerlukan teleskop karena meteor dapat dilihat langsung dengan mata telanjang jika kondisi cuaca mendukung.

(Eunike Michelle Gultom)

(Putri Purnama Sari)