Perajin memproduksi gerabah tanah liat di Desa Sitiwinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/tom.
Gerabah Sitiwinangun Cirebon Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Edukasi Berbasis Kriya
Silvana Febiari • 30 June 2026 20:35
Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyebut Gerabah Sitiwinangun memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi berbasis kriya. Pengembangan ini diharapkan memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus mendukung perekonomian masyarakat.
Sekretaris Disbudpar Kabupaten Cirebon Juju Juhariah mengatakan kerajinan tradisional yang berkembang di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, itu merupakan aset budaya yang perlu dijaga keberlanjutannya.
“Gerabah Sitiwinangun memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata edukasi dan desa wisata berbasis kriya yang unggul,” kata Juju, dilansir dari Antara, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut dia, pengembangan potensi tersebut harus dibarengi dengan upaya pelestarian agar keterampilan membuat gerabah yang diwariskan secara turun-temurun tidak hilang seiring perkembangan zaman. Ia menilai pelestarian warisan budaya tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Oleh karena itu, kata dia, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media menjadi faktor penting untuk memperkuat pelestarian sekaligus mengembangkan nilai ekonomi Gerabah Sitiwinangun.
Juju mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai gagasan dan rekomendasi. Hal ini dapat mendukung pengembangan gerabah sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Cirebon.
Selain memiliki nilai sejarah, lanjut dia, Gerabah Sitiwinangun juga menyimpan nilai filosofis dan menjadi sumber penghidupan bagi para perajin di wilayah tersebut. Maka dari itu, pihaknya telah menyelenggarakan Seminar Gerabah Sitiwinangun sebagai ruang bertukar gagasan mengenai strategi pelestarian dan pengembangan kerajinan tradisional tersebut.
“Kami berharap dari forum hari ini lahir rekomendasi kebijakan dan jejaring kerja sama yang mampu mengangkat kembali Gerabah Sitiwinangun sehingga semakin dikenal dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Perajin memproduksi gerabah tanah liat di Desa Sitiwinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/tom.
Perajin gerabah di Desa Sitiwinangun telah ada sejak abad ke-15 dan berkembang pesat dengan penyebaran agama Islam yang membawa seni keterampilan membuat gerabah. Desa ini awalnya dikenal sebagai Padukuhan Kebagusan, namun kemudian diberi nama Sitiwinangun oleh Syekh Dinureja, seorang ulama yang juga mengajarkan keterampilan membuat gerabah.
Teknik membuat gerabah Sitiwinangun masih tradisional dengan teknik memutar gerabah yang membutuhkan keterampilan tinggi, kesabaran, dan ketelitian untuk menciptakan gerabah yang kuat dan indah. Gerabah Sitiwinangun terkenal dengan desainnya yang unik dan kualitasnya yang tinggi, termasuk gentong, kendi, dan teko yang dihiasi dengan motif ulur bunga.